Opini  

Pendidikan Perempuan dan Kartini

Djoko Tetuko

Oleh Djoko Tetuko – Dirut Media Koran Transparansi

Belum lama kita telah memberi tetenger atas kelahiran Raden Ajeng (RA) Kartini, 21 April, karena dianggap fenomenal pada zamannya. Dan sebentar lagi bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), 2 Mei.

Sekedar memberi sedikit penyegaran sekaligus saling mengingatkan bahwa RA Kartini, adalah muslimah taat dan cerdas juga berwawasan global. Bahkan sangat Qur’ani.

Sejak mendengar dan menerima proses belajar mengajar tafsir Al Qur’an, bahasa Jawa, kemudian mendalami makna dan arti serta melangkah seperti apa? Tanpa ragu mengusulkan kepada sang guru.

Allahu waliyyul-lazina amanu, yukhrijuhum minaz-zulumati ilan-nur(i), wallazina kafaru auliya’uhumut-tagut(u), yukhrijunahum minan-nuri ilaz-zulumat(i), ula’ika ashabun-nar(i), hum fiha khalidun(a)” (surat Al Baqarah 257)

Artinya: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Adapun orang-orang yang kafir pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Tafsir singkat bahwa
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi pelindung orang beriman: Allah SWT menolong, membimbing, dan menjaga orang beriman dari keraguan dan kekufuran menuju ketenangan iman.

Sedangkan Thaghut sebagai pelindung Kafir: Setan (thaghut) menyesatkan manusia dengan memperindah kekafiran dan menjauhkan dari kebenaran.

Cahaya vs Kegelapan: Ayat ini menggunakan metafora cahaya (iman/ilmu) dan kegelapan (kekufuran/kebodohan) untuk menggambarkan perbedaan antara petunjuk Allah dan kesesatan setan.

Ayat inilah yang mengilhami Raden Ajeng Kartini begitu kuat hingga detik yang selalu dipopulerkan motto: “Habis gelap terbitlah terang”. Setelah proses pembodohan maka menuju proses iman dan ilmu.

Sesungguhnya hal ini terjadi, karena proses pembelajaran RA Kartini ketika berguru mengaji ke Kiai Sholeh Darat, ketika mendapat penjelasan dari tafsir terjemahan surat Al Fatihah dengan bahasa Jawa; RA Kartini yang masih remaja mengusulkan supaya Kiai Sholeh Darat menulis tafsir Al Qur’an dalam bahasa Jawa 30 juz, karena setelah mengikuti proses belajar mengajar merasa “ayem” dan merasa ke depan pendidikan dengan mengetahui isi, arti dan terjemahan Al Qur’an, maka akan membawa perubahan besar dalam hal keilmuan, sehingga muncullah salah motto dengan menukil potongan ayat surat Al Baqarah 257 di atas.

Murid Kiai Sholeh Darat

Seperti diketahui, RA Kartini adalah murid spiritual dari Kiai Sholeh Darat, ulama besar asal Semarang. Kartini belajar mengaji dan mendalami tafsir Al-Qur’an (Kitab vs Faidhurrahman) dari beliau, yang menginspirasi pemahaman keislaman dan semangat kesetaraan Kartini.

Kartini bahkan pernah meminta Kiai Sholeh menulis tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa.

Sebagai guru spiritual Kartini, KH Sholeh Darat setelah itu melanjutkan keinginan murid/santri dengan ijin Allah SWT, menyesuaikan tafsir hingga 30 juz, sebuah prestasi spektakuler. Bahkan pertama di Asia Pasific.

Saat itu, Kartini merasa galau karena hanya bisa membaca Al-Qur’an tanpa memahami artinya. Ia meminta Kiai Sholeh menuliskan tafsir dalam bahasa Jawa/pegon agar dapat dipahami perempuan Jawa.

Melalui proses panjang, atas usul Kartini, Kiai Sholeh Darat mulai menulis kitab tafsir berbahasa Jawa yang berjudul Faidhurrahman.

Hadiah Pernikahan

Kiai Sholeh Darat memberikan hadiah kitab Faidhurrahman hasil karyanya kepada RA Kartini saat ia menikah dengan Bupati Rembang.

Hadiah tafsir Al Qur’an berbahasa Jawa itu, membuat pemahaman Kartini akan Islam semakin mendalam dan semangat untuk pendidikan perempuan, salah satunya dipengaruhi selama berguru ke Kiai Sholeh Darat.

Pendidikan Perempuan dan Kartini adalah keniscayaan, karena sejak remaja ketika Kiai Sholeh Darat mengajar mengaji sudah mempunyai pemikiran mencerdaskan kaum perempuan supaya keluar dari kebodohan bahkan kekufuran.

Raden Ajeng Kartini, juga dikenal sebagai Raden Ayu Kartini (21 April 1879 – 17 September 1904), merupakan tokoh perempuan asal Jawa dan pahlawan nasional Indonesia.

Kartini dikenal sebagai sosok pejuang yang gigih memperjuangkan kemerdekaan dan kedudukan kaumnya, pada saat itu terutama wanita Jawa.

Salah satu keunikan, bahwa tanggal kelahirannya bertepatan dengan hari lahir dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, yakni sama-sama lahir pada 21 April 1879

Habis Gelap Terbitlah Terang, adalah motto dan semboyan Kartini mengajarkan Bahwa Perempuan Memiliki Hak Yang Sama Untuk Bermimpi, Belajar, Dan Berkarya.

Pendidikan Perempuan dan Kartini, setali tiga uang. Sebagai ungkapan dalam relasi sosial kemasyarakatan, setali tiga uang kemudian berkembang menjadi semacam peribahasa, yang berarti sama saja, mirip, atau kalau ungkapan zaman sekarang sebelas duabelas, tipis bedanya.

Sejarah telah mencatat bahwa Kartini adalah muslimah sejati. Kartini hari ini dan esok dengan keimanan serta keilmuan sebagaimana harapan RA Kartini, insyaallah menjadi harapan kemajuan bangsa Indonesia sesuai cita-cita luhur. “Kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Cahaya Kartini terus memancarkan sinar terang benderang bagi anak bangsa dan perempuan Indonesia, menuju keabadian keilmuan dan keimanan (cahaya dunia akhirat), tanpa mengingkari ajaran. Apalagi membodohi bangsa sendiri. Adalah Terbitlah Kartini abad ini, Generasi muda dengan sungguh-sungguh berhati suci jauh dari keinginan korupsi. (*)