PULUHAN ribu anggota Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai daerah di Jawa Barat memadati Masjid Al Jabbar, Kota Bandung, Sabtu (18/4), dalam rangka Halal Bihalal sekaligus peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU.
Momentum ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan refleksi keagamaan, tetapi juga panggung penting bagi lahirnya seruan moral kepada dunia internasional untuk menghentikan konflik bersenjata dan mewujudkan perdamaian global.
Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, yang juga menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, memimpin langsung kegiatan tersebut. Suasana khidmat terasa sejak awal acara dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, sholawat nabi, hingga tausiyah dari para tokoh agama. Namun, momen paling menonjol dalam kegiatan ini adalah pembacaan deklarasi dari PW Muslimat NU Jawa Barat yang berisi sembilan poin seruan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam sambutannya, Khofifah menegaskan bahwa deklarasi tersebut merupakan bentuk kepedulian nyata Muslimat NU terhadap kondisi dunia yang masih dilanda berbagai konflik. Ia menyebut, seruan ini adalah panggilan moral untuk mendorong komitmen global dalam menghentikan perang dan memperjuangkan perdamaian.
Sembilan poin yang disampaikan dalam deklarasi tersebut mencakup berbagai aspek krusial. Pertama, mendesak penghentian segera konflik bersenjata di seluruh dunia. Kedua, mendorong intensifikasi diplomasi damai yang melibatkan seluruh pihak terkait. Ketiga, menekankan pentingnya perlindungan maksimal bagi warga sipil, khususnya kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia.
Poin keempat hingga keenam berfokus pada perlindungan sektor vital dan kemanusiaan, termasuk tenaga medis, fasilitas kesehatan, tenaga pendidik, serta jurnalis. Selain itu, Muslimat NU juga menuntut jaminan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan bagi korban konflik, mulai dari kebutuhan pangan hingga layanan kesehatan.
Selanjutnya, poin ketujuh menegaskan pentingnya penegakan hukum internasional dan prinsip hak asasi manusia. Poin kedelapan mendorong keterlibatan aktif perempuan dalam proses perdamaian, sementara poin kesembilan menekankan perlunya program rehabilitasi dan rekonstruksi pascakonflik, termasuk pemulihan psikososial bagi korban.
Khofifah menilai, peringatan Harlah ke-80 ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran perempuan dalam berbagai sektor, termasuk diplomasi internasional. Ia menyebut bahwa Muslimat NU memiliki kekuatan besar melalui jejaring keilmuan yang luas, termasuk keberadaan Asosiasi Profesor dengan 136 disiplin ilmu.
Menurutnya, potensi tersebut dapat dimaksimalkan untuk memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan perdamaian dunia. Ia juga menegaskan bahwa Muslimat NU tidak hanya bergerak di ranah domestik, tetapi juga memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu-isu global yang menyangkut kemanusiaan.
Sebagai tindak lanjut, deklarasi tersebut akan dikirimkan secara kolektif kepada PBB melalui jalur daring, bekerja sama dengan berbagai organisasi perempuan lainnya. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat suara masyarakat sipil dalam mendorong kebijakan global yang lebih berkeadilan.
Di sisi lain, peringatan Harlah ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi anggota Muslimat NU. Melalui kerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI), berbagai program pemberdayaan diperkenalkan, seperti perencanaan haji dan umrah serta layanan cicilan emas. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan anggota sekaligus memperkuat basis ekonomi umat.
Menutup acara, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir, serta kepada keluarga yang telah memberikan dukungan. Ia menegaskan bahwa peran perempuan dalam organisasi dan masyarakat tidak terlepas dari dukungan keluarga sebagai fondasi utama.
Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kemanusiaan, Muslimat NU melalui momentum Harlah ke-80 ini menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi, tidak hanya bagi bangsa, tetapi juga bagi perdamaian dunia. (*)
