banner 400x130

Menjaga Topeng Malangan Tetap Hidup: Dari Panggung Tradisi hingga Generasi Muda

Di tengah gemuruh perubahan zaman, Topeng Malangan terus berusaha menemukan ruangnya. Topeng, gerak tari, gamelan, dan kisah Panji bukan sekadar pertunjukan yang dipentaskan di atas panggung. Di baliknya tersimpan ingatan, pengetahuan, filosofi, dan identitas masyarakat Malang yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Namun, menjaga sebuah kesenian tradisional tetap hidup bukan perkara mudah. Ia tidak cukup hanya dipertontonkan. Harus ada yang belajar, berlatih, memahami makna, lalu bersedia meneruskannya.

Karena itu, perhatian terhadap regenerasi menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri acara Apresiasi Pelestari Kesenian Asli Jawa Timur di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang, Kamis (20/8).

Dalam kesempatan itu, Khofifah memberikan apresiasi kepada 13 sanggar tari Topeng Malangan. Sanggar Tari Setyotomo mendapatkan satu set gamelan, sedangkan 12 sanggar lainnya menerima uang pembinaan masing-masing Rp5 juta.

Bagi Khofifah, bantuan tersebut bukan sekadar dukungan material. Lebih jauh, apresiasi itu merupakan bentuk penghargaan kepada para sesepuh, maestro, seniman, budayawan, sanggar, dan komunitas yang selama ini menjaga keberadaan Topeng Malangan.

“Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pelestari Topeng Malangan yang terus menjaga dan mewariskan kesenian ini. Apa yang panjenengan lakukan ini adalah menjaga identitas dan warisan budaya Jawa Timur untuk generasi yang akan datang,” ujarnya.

Topeng Malangan memiliki hubungan erat dengan Cerita Panji. Karakter, simbol, lakon, musik, gerak, dan filosofi yang terkandung di dalamnya menjadi bagian dari pengetahuan budaya yang tidak selalu bisa dipahami hanya dengan melihat sebuah pertunjukan.

Itulah sebabnya, pelestarian tidak boleh berhenti pada menjaga bentuk kesenian.

“Topeng Malangan bukan sekadar topeng, gerak tari, iringan musik maupun lakon pertunjukan. Di dalamnya tersimpan sejarah, pengetahuan, simbol, karakter, nilai kehidupan, serta kearifan masyarakat Malang yang diwariskan lintas generasi,” kata Khofifah.

Di titik inilah regenerasi menjadi penting. Sebuah kesenian bisa saja memiliki panggung, penonton, bahkan festival. Tetapi tanpa generasi yang bersedia mempelajari dan meneruskannya, keberlangsungan tradisi akan menghadapi persoalan.

“Kuncinya adalah regenerasi. Jangan sampai sebuah kesenian memiliki panggung, tetapi kehilangan penerus,” tegas Khofifah.

Harapan tersebut bukan tanpa dasar. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur menunjukkan ekosistem Topeng Malangan justru mengalami pertumbuhan.

Pada 2025 terdapat 11 sanggar tari khusus Topeng Malangan. Setahun kemudian jumlahnya meningkat menjadi 15 sanggar. Jumlah seniman aktif juga bertambah signifikan, dari 369 orang pada 2025 menjadi 589 orang hingga Agustus 2026.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat regenerasi.

“Pertumbuhan jumlah sanggar dan seniman aktif menunjukkan bahwa ekosistem Topeng Malangan terus berkembang. Ini menjadi modal penting untuk memperkuat regenerasi sekaligus memastikan kesenian ini tetap hidup dan dekat dengan generasi muda,” katanya.

Namun, kehidupan seni tidak bisa dilepaskan dari kehidupan ekonomi para pelakunya. Seniman membutuhkan ruang berkarya sekaligus kesempatan untuk memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas kebudayaan.

Khofifah mendorong agar seni dan budaya terhubung dengan pariwisata serta ekonomi kreatif. Dengan cara itu, pelestarian tidak hanya berbicara tentang menjaga masa lalu, tetapi juga menciptakan masa depan.

Dukungan kepada Sanggar Tari Setyotomo berupa seperangkat gamelan, misalnya, diharapkan menjadi sarana belajar bagi anak-anak muda.

“Dari sini anak-anak muda belajar, berlatih, berkarya, dan pada akhirnya menjadi generasi yang meneruskan Topeng Malangan,” tuturnya.

Di sekitar ruang budaya, kehidupan ekonomi pun bergerak. Khofifah memberikan bantuan modal Rp5 juta kepada Paguyuban PKL Taman Krida Budaya Malang. Seni, UMKM, pariwisata, dan masyarakat diharapkan tumbuh dalam satu ekosistem.

Pada akhirnya, mempertahankan Topeng Malangan bukan hanya tentang menyimpan topeng dan memainkan gamelan. Ia adalah tentang memastikan sebuah pengetahuan tidak terputus, seniman tetap memiliki masa depan, dan generasi muda menemukan alasan untuk mencintai warisan budayanya sendiri.

Sebab, seperti pesan Khofifah, budaya harus lestari, seniman berdaya, generasi muda bangga, ekonomi kreatif tumbuh, dan masyarakat memperoleh manfaat. (*)