LUMAJANG – Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Timur melalui Ketua Bidang Penanggulangan Bencana (PB) Edy Purwinanto bersama PMI Kabupaten Lumajang terus melakukan monitoring penyaluran air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan dan krisis air bersih.
Hingga Kamis (20/8/2026), PMI Kabupaten Lumajang telah menyalurkan sebanyak 66.500 liter air bersih kepada warga Desa Barat, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang.
Kabupaten Lumajang saat ini berstatus tanggap darurat bencana kekeringan atau krisis air bersih serta kebakaran hutan dan lahan. Status tersebut ditetapkan melalui Keputusan Bupati Lumajang Nomor 100.3.3.2/282/KEP/427.12/2026 dan berlaku selama 90 hari, mulai 10 Juli hingga 7 Oktober 2026.
Berdasarkan data lapangan, kekeringan melanda 19 desa yang tersebar di enam kecamatan. PMI Kabupaten Lumajang mulai melakukan dropping air bersih sejak 11 Agustus 2026 dengan menggunakan satu unit truk tangki berkapasitas 3.500 liter.
Hingga hari keempat pelaksanaan, PMI telah melakukan 19 rit distribusi dengan total 66.500 liter air bersih. Bantuan tersebut menjangkau satu dusun, lima RT dan dua RW di Desa Barat.
Sebanyak 162 kepala keluarga atau 560 jiwa menerima manfaat bantuan tersebut. Mereka terdiri atas 200 laki-laki dan 360 perempuan, termasuk 65 balita serta 71 lansia.
Distribusi air dilakukan setiap dua hari sekali dengan kapasitas hingga lima rit dalam sehari. Bantuan tersebut menjadi sangat penting mengingat kekeringan di wilayah tersebut hampir setiap tahun dirasakan masyarakat.
Saat tidak mendapatkan bantuan dropping air bersih, warga terpaksa mengambil air dari sungai untuk kemudian diendapkan sebelum digunakan. Sebagian warga lainnya harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi krisis air juga terjadi di kawasan Pandansari, Kecamatan Senduro. Salah satu sumber air yang berjarak sekitar 14-15 kilometer dari wilayah terdampak dilaporkan turut mengering.
Untuk mendukung distribusi air bersih, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memberikan empat unit tandon terpal. Sementara itu, PMI menyiapkan dua unit tandon sebagai sarana penampungan air bagi masyarakat.
Edy Purwinanto: PMI Harus Hadir Saat Masyarakat Mengalami Krisis
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Provinsi Jawa Timur, Edy Purwinanto, meninjau langsung kegiatan dropping air bersih di Desa Barat, Kecamatan Padang, Kamis (20/8/2026).
Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus memastikan bantuan air bersih tersalurkan kepada warga yang membutuhkan.
“Dalam kondisi kekeringan seperti ini, PMI harus hadir dan memberikan respons nyata kepada masyarakat. Air bersih merupakan kebutuhan dasar, sehingga distribusinya harus dilakukan secara cepat dan tepat sasaran, terutama bagi warga yang sumber airnya sudah mengering,” ujar Edy Purwinanto.
Menurut Edy, penanganan krisis air bersih membutuhkan kerja sama antara PMI, pemerintah daerah, BPBD dan masyarakat. Distribusi air tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga harus memperhatikan kondisi kelompok masyarakat yang paling rentan.
“Kami akan terus melihat kebutuhan di lapangan dan berkoordinasi dengan PMI Kabupaten Lumajang serta pihak terkait. Harapannya, bantuan ini bisa meringankan beban masyarakat selama masa kekeringan dan krisis air bersih berlangsung,” katanya.
Selain meninjau distribusi air bersih, Edy juga menghadiri kegiatan sosialisasi kesiapsiagaan bencana sejak usia dini di MI Nurul Islam, Desa Barat, Kecamatan Padang, pada Rabu (19/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya PMI meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, khususnya anak-anak, mengenai pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Penanganan kekeringan di Kabupaten Lumajang membutuhkan sinergi berbagai pihak agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Dengan status tanggap darurat yang masih berlangsung hingga 7 Oktober 2026, dukungan terhadap warga terdampak diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan sesuai dengan perkembangan kebutuhan di lapangan. (*)



