banner 400x130
Blitar  

Makna Kemerdekaan di Era Globalisasi, Generasi Muda Jangan Mudah Terjebak dalam Pusaran Hoax

Hj. Ratna Dewi Nirwana Sari, S.S., S.H., M.Kn, ziarah ke Makam Sang Proklamator Presiden pertama RI, Ir. Soekarno

BLITAR, WartaTransparansi.com – Kenang jasa para pahlawan yang telah gugur, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Hj. Ratna Dewi Nirwana Sari, S.S., S.H., M.Kn, ziarah ke Makam Sang Proklamator Presiden pertama RI, Ir. Soekarno di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Senin (17/08/2026).

Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan kemerdekaan setelah Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI yang berlangsung di Alun-Alun Pemkab Blitar, Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Kanigoro.

Menurut Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Ratna Dewi menyebut, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan kemerdekaan sekaligus momentum untuk mengenang kembali perjuangan para pahlawan.

“Peringatan HUT RI ke-81 yang jatuh pada 17 Agustus ini kita mengajak masyarakat untuk memaknai kemerdekaan dengan mengingat kembali perjuangan para pahlawan yang telah berkorban untuk merebut kemerdekaan Indonesia,” jelasnya.

Sebagai rakyat yang berbangsa dan bernegara hendaknya saling menjaga persatuan dan tidak membiarkan perbedaan menjadi alasan terjadinya perpecahan. Dan ziarah ini untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, harta, hingga nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

“Untuk mengisi kemerdekaan di era globalisasi dan digitalisasi telah mengubah wajah dunia secara fundamental, menempatkan generasi muda di garda terdepan sebuah revolusi peradaban. Pemuda saat ini tidak lagi hanya berhadapan dengan tantangan lokal, melainkan dinamika global,” ujarnya.

Perkembangan digital membawa kemudahan akses informasi yang tak terbatas, membuka pintu bagi inovasi dan kolaborasi lintas batas. Namun, di sisi lain, terdapat jurang potensi penyalahgunaan media sosial yang mengancam kesehatan mental serta integritas informasi.

Tanpa benteng etika dan filter yang kuat, pemuda rentan terjebak dalam pusaran hoaks. Dan hoax itu merupakan informasi bohong dibuat sedemikian rupa hingga seolah-olah benar adanya yang dikemas dalam beberapa konten. Narasi informasi atau berita yang berlebihan atau membesar-besarkan keadaan serta memuat foto atau gambar rekayasa yang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali dengan berita atau informasi yang dikabarkan dan tqmpilan video untuk menggambarkan secara lebih nyata tentang informasi atau berita yang disebar.

Sebagai solusi, pemuda modern dituntut untuk memiliki keterampilan navigasi yang mumpuni, yakni literasi digital dan kemampuan berpikir kritis. Literasi bukan sekadar tahu cara menggunakan gawai, melainkan kemampuan untuk memilah, menganalisis dan memanfaatkan informasi secara bertanggung jawab.

“Dengan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan zaman, pemuda tidak hanya akan menjadi penonton dalam arus sejarah, melainkan aktor utama yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang emas bagi kemajuan bangsa,” pungkas Ratna Dewi. (*)

Penulis: Sumartono