banner 400x130

HUT ke-81 RI, Arif Fathoni Dorong Warga Jadikan Momentum Kemerdekaan untuk Memperkuat Persatuan

SURABAYA, Wartatransparansi.com — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Surabaya tidak hanya ditandai dengan berbagai perlombaan dan kegiatan hiburan. Di balik kemeriahan tersebut, masyarakat juga diingatkan untuk menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan memperkuat persatuan dan kepedulian terhadap sesama.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni melihat semangat warga dalam menyambut 17 Agustus masih sangat tinggi. Kegiatan yang digelar masyarakat di tingkat RT dan RW dinilai menjadi gambaran bahwa semangat kebersamaan tetap terjaga.

Menurut Toni, sapaan Arif Fathoni, berbagai aktivitas warga yang berlangsung setiap akhir pekan menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.

“Antusiasme masyarakat dalam merayakan hari jadi proklamasi kemerdekaan tidak berubah dari tahun ke tahun. Denyut nadi kehidupan dan kebahagiaan masyarakat tertuang dalam setiap Sabtu dan Minggu melalui lomba-lomba di masing-masing RT dan RW,” kata Toni, Senin (10/8/2026).

Ia menilai kondisi ekonomi maupun situasi kebangsaan yang saat ini menghadapi sejumlah tantangan tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk merayakan hari kemerdekaan.

“Jadi, meskipun sebagian pengamat menganggap kondisi kebangsaan hari ini susah, itu tidak mengurangi antusiasme masyarakat Surabaya dalam memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan yang ke-81 tahun,” ujarnya.

Bagi Toni, semangat tersebut menjadi modal penting bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa. Terlebih, dinamika global dan ketidakpastian geopolitik berpotensi memberikan dampak terhadap kondisi nasional.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan. Menurutnya, hubungan yang harmonis antarwarga menjadi salah satu kekuatan Indonesia ketika menghadapi situasi sulit.

“Persatuan dan kesatuan harus terus menjadi pilar relasi antar warga negara di Indonesia sehingga Indonesia bisa melalui masa-masa sulit di masa yang akan datang,” tegasnya.

Toni juga memberikan perhatian terhadap lomba fotografi jurnalistik yang digelar kelompok kerja di lingkungan DPRD Surabaya. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki nilai lebih karena karya fotografi dapat menjadi media untuk menyampaikan kritik sekaligus merekam realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

“Melalui lomba foto yang berisi kritikan dan narasi yang berkembang di tengah masyarakat, kemudian dituangkan dalam bentuk sebingkai foto. Saya pikir ini kegiatan yang produktif untuk perbaikan kehidupan kebangsaan di masa-masa yang akan datang,” katanya.

Sementara itu, mengenai imbauan Wali Kota Surabaya terkait iuran kegiatan 17 Agustus, Toni menilai kontribusi warga sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.

Ia menegaskan, masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik dapat memberikan kontribusi lebih besar. Sebaliknya, warga yang memiliki keterbatasan tetap dapat berpartisipasi melalui tenaga maupun pemikiran.

“Kalau masyarakat mampu, mestinya berkontribusi lebih banyak. Sementara masyarakat yang tidak mampu bisa berkontribusi dengan tenaga dan pikirannya untuk menyukseskan kegiatan peringatan hari kemerdekaan di masing-masing kampung,” jelasnya.

Lebih dari sekadar meramaikan kampung dengan perlombaan, Toni berharap peringatan kemerdekaan menjadi momentum untuk mengenang pengorbanan para pejuang bangsa.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjuangan panjang dengan pengorbanan harta hingga nyawa. Karena itu, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjaga hasil perjuangan tersebut.

“Tugas kita sebagai generasi penerus adalah menjaga persatuan dan kesatuan sehingga negara ini tetap tegak berdiri dalam menghadapi tantangan kebangsaan di masa-masa yang akan datang,” katanya.

Toni menambahkan, menjaga keberagaman merupakan bagian penting dalam mempertahankan persatuan Indonesia. Menurutnya, perbedaan yang ada harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.

“Perjuangan kemerdekaan di masa lalu susahnya luar biasa. Tugas kita sebagai generasi penerus adalah bagaimana merawat keberagaman sebagai pilar utama persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” pungkasnya. (*)