banner 400x130
Opini  

Donor Darah, Wujud Nyata Solidaritas Kemanusiaan

Dr. Ir. Budi Sawitri, SST, M.Si

Di tengah era digital yang bergerak serba cepat, ukuran keberhasilan sering kali dikaitkan dengan pencapaian besar, mulai dari karier yang cemerlang, popularitas di media sosial, hingga akumulasi materi. Di tengah arus tersebut, Hari Donor Darah Sedunia 2026 yang diperingati setiap 14 Juni menghadirkan pesan yang sederhana, tetapi sangat mendalam melalui tema “One Drop of Humanity. Give Blood. Save Lives.”

Tema ini mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Sering kali, kepedulian hadir dalam bentuk yang paling sederhana, yakni setetes darah yang didonorkan untuk menyelamatkan kehidupan orang lain.

Donor darah merupakan salah satu bentuk solidaritas yang paling tulus. Ketika seseorang mendonorkan darahnya, ia tidak pernah mengetahui kepada siapa darah itu akan diberikan. Bisa jadi darah tersebut mengalir untuk seorang ibu yang mengalami perdarahan saat melahirkan, korban kecelakaan lalu lintas, pasien yang menjalani operasi besar, atau anak yang tengah berjuang melawan leukemia.

Ketidaktahuan itu justru menjadi nilai kemanusiaan yang paling murni karena donor darah dilakukan tanpa memandang identitas penerimanya.

Dalam setiap kantong darah yang terkumpul, sekat suku, agama, ras, profesi, maupun pilihan politik melebur menjadi satu identitas, yaitu manusia. Donor darah membuktikan bahwa meskipun kita berbeda, kebutuhan untuk saling menolong adalah nilai universal yang mengikat seluruh umat manusia.

Sayangnya, kebutuhan darah di berbagai daerah, termasuk di Indonesia, masih sering menghadapi kondisi kritis. Palang Merah Indonesia (PMI) terus berupaya memenuhi kebutuhan melalui berbagai kegiatan donor darah, namun stok darah belum selalu mampu mengimbangi tingginya permintaan.

Penyebabnya bukan semata karena minimnya fasilitas, melainkan masih adanya keraguan masyarakat untuk menjadi pendonor rutin.

Sebagian orang takut terhadap jarum suntik, sebagian lainnya merasa tidak memiliki waktu, sementara tidak sedikit yang beranggapan bahwa akan selalu ada orang lain yang mendonorkan darahnya. Padahal, jika setiap orang memiliki pemikiran serupa, maka persediaan darah akan semakin sulit dipenuhi.

Sesungguhnya, rasa tidak nyaman selama beberapa menit saat proses donor tidak sebanding dengan kecemasan keluarga pasien yang menunggu darah di ruang gawat darurat atau unit perawatan intensif. Ketakutan kecil yang kita rasakan dapat berubah menjadi harapan besar bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan hidup. Donor darah bukan sekadar tindakan medis, melainkan latihan untuk mengalahkan ego dan menumbuhkan empati.

Harapan itu bukan sesuatu yang mustahil. Salah satu contoh nyata dapat ditemukan di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, Jawa Timur.

Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Korps Sukarela (KSR) PMI Unit Polbangtan Malang, budaya donor darah terus ditumbuhkan di lingkungan kampus. Mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan secara rutin berpartisipasi dalam kegiatan donor darah yang bekerja sama dengan Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Malang.

Kegiatan tersebut membuktikan bahwa institusi pendidikan tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membangun karakter yang peduli terhadap sesama.

Di tengah kesibukan mempersiapkan generasi penerus sektor pertanian, Polbangtan Malang juga menanamkan nilai kemanusiaan melalui aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Peran generasi muda dalam gerakan donor darah sangat strategis. Mereka memiliki energi, semangat, serta kemampuan memengaruhi lingkungan sekitarnya. Jika donor darah berhasil menjadi bagian dari budaya kampus, maka kebiasaan tersebut akan terbawa ke lingkungan kerja dan masyarakat.

Dari sinilah lahir ekosistem kepedulian yang berkelanjutan.
Momentum Hari Donor Darah Sedunia 2026 semestinya menjadi titik balik untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap donor darah. Aktivitas ini tidak boleh lagi dianggap sebagai aksi heroik yang hanya dilakukan ketika terjadi bencana atau saat anggota keluarga membutuhkan transfusi darah. Donor darah harus menjadi bagian dari gaya hidup sehat sekaligus wujud tanggung jawab sosial setiap warga negara.

Meluangkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk mendonorkan darah bukanlah pengorbanan yang besar. Sebaliknya, tindakan sederhana tersebut dapat memberikan kesempatan hidup bagi lebih dari satu orang. Di balik satu kantong darah, tersimpan harapan bagi pasien untuk kembali berkumpul bersama keluarganya, melanjutkan pendidikan, bekerja, bahkan mewujudkan cita-citanya.

Pada akhirnya, kemanusiaan tidak selalu lahir dari tindakan yang spektakuler. Ia tumbuh dari kepedulian yang dilakukan secara konsisten. Setetes darah yang kita berikan hari ini mungkin tampak kecil, tetapi bagi seseorang yang sedang menanti transfusi, itulah seluruh harapan untuk menyambut hari esok.

Karena itu, mari jadikan donor darah sebagai budaya, bukan sekadar seremoni tahunan. Sebab, setetes darah yang kita relakan adalah bukti bahwa kemanusiaan masih hidup dan terus mengalir dalam diri kita. (*)

Penulis: Dr. Ir. Budi Sawitri, SST, M.Si (Koordinator Donor Darah Politeknik Pembangunan Pertanian Malang)