MOJOKERTO – Memasuki musim kemarau Juni 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menggelar rapat koordinasi persiapan Gladi Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kecelakaan air (laka air) di Smartroom Satya Bina Karya (SBK), Minggu (14/6/2026).
Rapat yang melibatkan unsur Polri, TNI, Dinas Kehutanan, Perum Perhutani, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya tersebut menjadi langkah awal pemerintah daerah dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama musim kemarau.
Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Mojokerto Moch. Rizal Octavian meluncurkan dua inovasi BPBD Kabupaten Mojokerto, yakni branding kebencanaan “Tangguh Rek” dan aplikasi pemantauan bencana “Mojo Mandala”.
Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Rinaldi Rizal Sabirin, mengatakan Tangguh Rek yang sebelumnya hanya menjadi slogan kini dikembangkan sebagai konsep tata kelola resiliensi kawasan rawan bencana. Program tersebut merupakan akronim dari Tanggap, Tangkas, Unggul, dan Harmoni yang bertujuan membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.
“Tangguh Rek kami hadirkan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana maupun kondisi ketidakpastian yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujar Rinaldi.
Menurutnya, paradigma penanggulangan bencana saat ini tidak lagi berfokus pada penanganan pascabencana, melainkan lebih mengedepankan mitigasi, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko bencana. Karena itu, BPBD juga mengembangkan berbagai program pendukung seperti edukasi kebencanaan, peningkatan kapasitas relawan, pembentukan tim resiliensi, hingga penguatan sistem teknologi informasi kebencanaan.
Sementara itu, aplikasi Mojo Mandala terintegrasi dengan Super App Mojosakti milik Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Aplikasi tersebut dilengkapi fitur pemantauan sensor banjir di 10 sungai, sensor longsor di empat titik rawan, serta sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS).
Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat mengakses informasi secara real-time mengenai peta kawasan rawan bencana, kondisi sungai, titik rawan longsor, status peringatan dini, hingga data berbagai kejadian bencana seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, serta erupsi gunung api.
Selain notifikasi digital, sistem juga terhubung dengan alarm peringatan dini yang akan berbunyi di wilayah terdampak sesuai tingkat ancaman yang terdeteksi.
Wakil Bupati Mojokerto Moch. Rizal Octavian menyatakan peluncuran Tangguh Rek dan Mojo Mandala merupakan komitmen pemerintah daerah dalam membangun masyarakat yang tangguh bencana dan adaptif terhadap perubahan iklim.
“Melalui kolaborasi lintas sektor, komunikasi risiko yang efektif, serta partisipasi aktif masyarakat, kami ingin mewujudkan Kabupaten Mojokerto yang semakin siap, tanggap, dan tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana,” tegas Rizal. (*)







