Kediri  

BI Kediri: Ekonomi Jatim Tahun Depan Lebih Optimistis, Inflasi Tetap Terkendali

KEDIRI (WartaTransparansi.com) – Kepala Bank Indonesia (BI) Kediri Yayat Cadarajat memproyeksikan kondisi perekonomian Jawa Timur (Jatim) pada tahun depan akan lebih optimistis dibandingkan tahun ini.

“Kondisi perekonomian di Jawa Timur diproyeksikan lebih optimis pada tahun depan dibandingkan tahun ini,” ujarnya, usai acara Ngopi Nda, di Hall lantai 5 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Senin 15 Desember 2025.

Ia menyebut perkembangan terakhir menunjukkan perbaikan dari triwulan I ke triwulan III. “Perkembangan terakhir menunjukkan perbaikan dari triwulan I ke triwulan III,” kata Yayat.

Menurutnya, ke depan kondisi ekonomi diharapkan semakin baik, didukung oleh sejumlah proyek investasi yang sudah siap berjalan. “Diharapkan ke depan kondisi akan semakin baik, didukung oleh beberapa proyek investasi yang sudah siap berjalan,” ucapnya.

Selain itu, program-program yang dicanangkan pemerintah, seperti MBG (Merah Putih) dan program korporatisasi petani Provinsi Jatim, diharapkan mulai berdampak dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Program-program yang dicanangkan oleh pemerintah seperti MBG (Merah Putih) dan program korporatisasi petani Provinsi Jatim diharapkan mulai berdampak dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Untuk Kota dan Kabupaten Kediri, Yayat juga menyampaikan optimisme serupa. “Diharapkan ke depan kondisi ekonomi semakin baik,” katanya.

Ia menekankan perlunya perbaikan manajemen pengeluaran, alokasi belanja, dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dengan belajar dari pengalaman tahun ini.

“Terdapat harapan untuk memperbaiki manajemen pengeluaran, alokasi belanja, dan peningkatan pendapatan (PAD), belajar dari pengalaman tahun ini,” ujarnya.

Menurut dia, PAD perlu ditingkatkan melalui perbaikan penerimaan, misalnya dari retribusi. “PAD perlu ditingkatkan melalui perbaikan penerimaan, misalnya dari retribusi,” katanya.

Ia juga menegaskan alokasi pembelanjaan perlu ditinjau ulang agar lebih berdampak. “Alokasi pembelanjaan perlu ditinjau ulang untuk memastikan dampak yang lebih besar (impactful) terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Terkait kemandirian fiskal, Yayat menyatakan sebagian besar kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Kediri, masih belum mandiri secara fiskal. “Sebagian besar kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Kediri, masih berada di tahap yang belum mandiri secara fiskal (kemandirian fiskal),” katanya. Ia berharap digitalisasi dan elektronifikasi transaksi pemerintah dapat mendorong peningkatan PAD.

“Diharapkan, digitalisasi dan elektronifikasi transaksi pemerintah dapat mendorong peningkatan PAD dan menuju kemandirian fiskal,” ujarnya.

Langkah ini dinilai mempermudah pembayaran, mengurangi kebocoran penerimaan, dan mempermudah perencanaan anggaran.

Dalam evaluasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) 2024, Yayat menyebut inflasi di Kediri relatif stabil.

“Inflasi relatif stabil/terkendali di Kediri,” katanya. Stabilitas ini didukung pasokan yang baik dari wilayah produsen sekitar Kediri dan hasil panen yang bagus, sehingga kenaikan harga relatif terkendali. Pemerintah daerah juga melakukan berbagai upaya, termasuk operasi pasar serta Gerakan Pengendalian Harga Pangan (GPHM) atau Gerakan Panen. “Pengendalian harga sangat bergantung pada pasokan agar ketersediaan barang di pasar tetap aman,” ujarnya.

Kegiatan Ngopi Nda Bank Indonesia Kediri membahas proyeksi ekonomi Jawa Timur bersama media.
Kepala Bank Indonesia Kediri Yayat Cadarajat menjadi pembicara dalam acara Ngopi Nda (Ngomongke Info Terkini dengan Media) di Kantor Perwakilan BI Kediri, Senin 15 Desember 2025. (Foto: Moch Abi Madyan)

Sementara itu, menyinggung tingginya kredit konsumsi, Yayat menjelaskan kredit konsumsi adalah pinjaman untuk kebutuhan yang tidak menghasilkan secara langsung dan kurang baik jika terlalu tinggi. Namun, kredit konsumsi bisa berdampak positif jika digunakan untuk barang tahan lama atau alat produksi.

Sebaliknya, kredit yang sangat konsumtif seperti pinjol atau paylater untuk kebutuhan jangka pendek dinilai tidak memiliki sumber pendapatan untuk pengembaliannya.

“Idealnya, kredit yang lebih bagus adalah kredit untuk usaha yang dapat menghasilkan profit,” katanya. (*)

Penulis: Moch Abi Madyan