KEDIRI (WartaTransparansi.com) – Festival Banjari di Masjid Al Khalid, Kelurahan Semampir, berubah menjadi magnet keramaian setelah 25 grup dari berbagai kelurahan tampil bergantian melantunkan sholawat.
Sejumlah masyarakat sekitar memadati halaman dan pelataran area Masjid, yang dikenal memiliki arsitektur unik perpaduan gaya Jawa dan modern, serta penataan yang bersih dan rapi. Sejak pagi hingga sore, masyarakat datang untuk menyaksikan ajang religi yang memperebutkan hadiah belasan juta rupiah.
Dalam kegiatan tersebut panitia, telah menyiapkan hadiah berupa juara 1 Rp10 juta, juara 2 Rp7,5 juta, juara 3 Rp1,5 juta, serta tiga juara harapan masing-masing Rp1,5 juta. Setiap grup diberi waktu sekitar 15 menit menampilkan komposisi sholawat lengkap dengan vokal, kendang, dan aransemen khas banjari.
Anggota DPRD Kota Kediri sekaligus penggagas kegiatan, Imam Wihdan Zarkasyi, menegaskan bahwa festival ini merupakan respons Pemerintah Kota terhadap aspirasi masyarakat yang menginginkan ruang kegiatan positif bagi generasi muda. Ia menyebut festival ini bukan sekadar kompetisi, tetapi wadah dakwah untuk memperkuat akhlak.
“Anak muda itu aktivitasnya dan energinya besar sekali. Jangan sampai kemudian energi itu digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat,” kata Ketua Fraksi Golkar DPRD Kota Kediri tersebut, Minggu 7 Desember 2025.
Menurut politisi yang akrab disapa Pak Lek Imam, kegiatan ini lahir dari kebutuhan remaja yang membutuhkan ruang berekspresi, terutama yang dekat dengan budaya Islam. Ia menegaskan bahwa tujuan utama festival jauh lebih besar dari sekadar lomba.
Festival Banjari ini bukan hanya semata-mata ingin lomba saja, melainkan pesan dan tujuan tersajinya acara religi anak muda.
“Kami berharap ajang ini jadi ajang untuk juga memperhatikan akhlak, memperkuat iman, dan menenangkan hati,” terang Pak Lek Imam.
Ia juga menyoroti dimensi filosofis seni islami. Seni tanpa adab hanya menjadi hiburan, tapi seni dengan adab bisa berubah menjadi dakwah. Hal ini selaras dengan visi dan misi Kota Kediri sebagai kota agamis yang memberi ruang luas bagi aktivitas seni bernuansa Islam.
Pak Lek Imam mengapresiasi Pemkot Kediri yang memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan festival. Ia berharap kegiatan serupa dapat mengarahkan anak muda pada aktivitas yang positif dan memperkuat persaudaraan antarwarga.
“Intinya adalah mengakomodasi aspirasi warga agar ruang kegiatan anak muda itu makin banyak. Yang penting positif saja, apalagi kalau itu nuansanya agamis,” ujarnya.
Selain menjadi ruang unjuk kemampuan. Masih kata Pak Lek Imam, festival ini juga dimanfaatkan untuk memetakan potensi seni Islami di berbagai kelurahan. Banyaknya pendaftar membuat panitia melakukan seleksi agar sesuai kapasitas waktu dan tempat. Masjid Al Khalid dipilih karena fasilitas memadai sekaligus prestasinya sebagai Juara Satu tingkat Jatim.
“Tentu ini jadi suatu saat mungkin jadi ikon Kota Kediri juga Al-Khalid. Jadi acara-acara di Kota Kediri bisa memanfaatkan suasana dan fasilitas yang ada di Al-Khalid,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkot Kediri, Yono Haryadi, menegaskan bahwa pihaknya menyambut positif kegiatan keagamaan seperti festival banjari yang diusulkan oleh Anggota DPRD Kota Kediri Imam Wihdan Zarkasyi.
Ia menyebut anggaran untuk kegiatan tersebut telah dialokasikan dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) tahun ini sebagai bagian dari program “Mapan” dengan fokus aspek agamis.
“Ini Pemerintah Kota Kediri sebenarnya positif menyambut kegiatan-kegiatan seperti ini yang diusulkan oleh Pak Imam, dan kami pun juga merasa klik lah karena kita juga punya program mapan ya, salah satunya agamis,” ujar Yono.
Ia memastikan proses penganggaran dilakukan secara baik dan transparan. “Terbukti bahwa kami juga di tahun ini di PAK sudah merealisasikan menganggarkan untuk kegiatan yang diusulkan oleh Pak Imam,” jelasnya.
Ia menambahkan sinergi eksekutif dan legislatif berjalan sangat baik demi menghadirkan kegiatan yang menyasar kemaslahatan masyarakat.
Menanggapi tingginya antusias peserta dan warga, Yono berharap kegiatan serupa dapat berlanjut pada tahun berikutnya. Hal ini menegaskan kesiapan Pemkot Kediri dalam mendukung penuh kegiatan positif berbasis keagamaan.
“Nanti didoakan saja, mungkin juga ada nanti kemitraan seperti ini bisa digalakkan lebih lanjut lagi,” katanya.
Respon positif datang dari salah satu peserta, Fikram Zamzami Bimathama atau Bima (15), Grupnya menampilkan tiga lagu, salah satunya “Ya Badrotim”. Bima berharap festival ini dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam musik banjari sekaligus menambah pengalaman tampil di panggung besar.
Sebagai personel grup banjari Al Kautsar. Ia mengaku sangat terkesan dengan megahnya Masjid Al Khalid yang menjadi venue festival.
“Ya tempat acara sangat menarik, apalagi Masjidnya juga ikonik ada sentuhan Jawa dan modern, lalu tempatnya luas, terus sound-nya juga enak,” pungkasnya.(*)











