KEDIRI (WartaTransparansi.com) – Dari sebuah dapur sederhana di Jalan Kertoyuddo, Dusun Jatisari, Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, lahir cita rasa khas yang terus bertahan di tengah gempuran camilan modern. Di tangan dingin Tasminingsih, Keripik Gadung Laa Tansa bukan sekadar makanan ringan, melainkan simbol ketekunan, warisan rasa, dan semangat perempuan desa yang menolak kalah oleh zaman. Dia memulai usahanya dari niat sederhana.
“Ingin punya usaha keripik gadung karena termasuk bahan langka dan disukai banyak orang,” ujarnya, Sabtu 1 November 2025.
Sebelum menekuni usaha keripik gadung, Tasminingsih ibu rumah tangga yang akrab disapa Bu Ning pernah berjualan pakaian. Kini, tak hanya memproduksi camilan khas berbahan gadung, tetapi juga mengelola usaha katering rumahan yang turut menopang ekonomi keluarganya.
Ia tak sendiri. Sang suami, Juaini, seorang pensiunan guru, menjadi penyemangat di balik layar. Dari pasangan ini lahir dua anak berprestasi: Akhsin Nurlayli, kini dosen di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Asliha Latifatun Nisa, mahasiswi S2 di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. “Anak-anak bisa kuliah karena beasiswa semua, Mas. Alhamdulillah,” tuturnya penuh rasa syukur.
Menjaga Resep Masa Lalu, Mengolah dengan Hati
Di balik kerenyahan Keripik Gadung Laa Tansa, tersimpan proses panjang yang tak berubah sejak dulu. Gadung, bahan yang dikenal beracun jika tidak diolah dengan benar, diproses dengan penuh ketelitian dan kesabaran.
“Kupas kulitnya, dikupas sesuai selera, dibalur abu, dijemur, lalu direndam dua hari dua malam sebelum digoreng,” jelas Bu Ning.
Semua tahapan dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin modern. Ia masih setia menggunakan wajan tradisional untuk menggoreng.
“Penggorengan masih pakai manual, biar rasanya tetap khas,” tambahnya.
Meski alat sederhana, Bu Ning tak berhenti berinovasi. Dia menghadirkan dua varian rasa, gurih dan bawang, serta memastikan produknya memiliki identitas legal berupa izin PIRT serta sertifikat halal. “Inovasinya sederhana, tapi penting agar produk dipercaya pembeli,” katanya.
Satu kemasan Keripik Gadung Laa Tansa dijual Bu Ning dengan harga Rp15.000 per pack, terjangkau bagi berbagai kalangan namun tetap mengutamakan kualitas rasa.
Antara Musim, Pasar, dan Ketahanan
Tantangan terbesar datang dari alam. Saat musim penghujan tiba, gadung sulit dipanen dan stok bahan baku pun menipis. “Kalau musim hujan, gadung tidak bisa dipanen. Jadi produksi menurun,” katanya.
Namun, Bu Ning melihat peluang dari kemajuan digital. Ia mulai memanfaatkan media sosial untuk memperluas pasar. “Sekarang selain dititipkan di toko, saya juga jual lewat online,” ujarnya. Langkah kecil ini membuka peluang baru bagi Keripik Gadung Laa Tansa untuk dikenal lebih luas, bahkan ke luar daerah.
Meski belum mendapatkan pembinaan langsung dari Bank Indonesia Kediri, Bu Ning optimistis bahwa dukungan terhadap pelaku UMKM seperti dirinya akan semakin terbuka. “BI semoga bisa terus membantu UMKM, baik berupa fisik maupun materi,” harapnya.
Menumbuhkan dari Rumah, Membangun dari Keluarga
Usaha rumahan ini dijalankan dengan tenaga dua orang, termasuk dirinya. Walau skala produksinya masih kecil, dampaknya cukup terasa di lingkungannya. Banyak warga sekitar yang kini mengenal gadung bukan sekadar bahan beracun, tetapi sumber ekonomi baru yang bisa diolah dengan aman dan bernilai jual tinggi.
“Alhamdulillah, sekarang produk saya banyak dikenal orang. Mereka suka karena rasanya renyah dan gurih,” katanya dengan mata berbinar.
Keberhasilan itu membuat Bu Ning makin percaya diri mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan. Ia belajar soal pemasaran digital, pengemasan, dan manajemen sederhana. “Setelah ikut pelatihan, saya jadi tahu cara jualan online dan cari rekan kerja yang bisa bantu pemasaran,” ujarnya.
Menatap Masa Depan UMKM Lokal
Meski belum memiliki rencana besar seperti ekspor atau membuka cabang, Bu Ning sudah menyiapkan strategi sederhana: mempertahankan kualitas dan memperkuat identitas produk. “Saya ingin terus menjaga cara memproses gadung dengan baik. Yang penting konsisten dan jujur,” tuturnya penuh keyakinan.
Di tengah arus modernisasi, Keripik Gadung Laa Tansa justru menjadi simbol keaslian. Filosofi gadung, yang dulu dianggap berbahaya tapi kini menjadi sumber penghidupan, seolah menggambarkan perjalanan hidup Bu Ning, dari kesederhanaan menuju keberdayaan.
Baginya, masa depan UMKM tidak hanya tentang besar atau kecilnya omzet, tetapi soal ketulusan dan keuletan dalam bertahan. Ia pun mengajak para pelaku UMKM di Kediri untuk tak takut mencoba. “Sering ikut pelatihan, jual lewat online, dan terus belajar. Kalau niatnya baik, pasti ada jalan,” katanya memberi semangat.
Harapan dari Krenceng
Terakhir, Bu Ning merasa yakin, masa depan UMKM seperti dirinya bisa lebih cerah jika ada kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha kecil. Ia berharap Bank Indonesia Kediri dapat memperluas program pembinaan dan akses permodalan bagi pelaku UMKM di pedesaan.
“BI bisa bantu banyak, bukan hanya dana tapi juga pelatihan dan promosi. Kami butuh dukungan agar produk lokal bisa dikenal lebih luas,” ucapnya penuh harap.
Dari tangan seorang ibu di sudut Desa Krenceng, Keripik Gadung Laa Tansa lahir bukan hanya sebagai produk, tetapi sebagai cerita perjuangan, cinta keluarga, dan keyakinan bahwa cita rasa lokal akan selalu menemukan jalannya menuju masa depan.(*)











