KEDIRI – Di dalam dinginnya ruang bioskop di salah satu Mall, yang berlokasi di Jalan Panglima Sudirman, Ringin Anom, Kecamatan Kota, Kota Kediri Jumat malam itu (6/11/2026), udara seolah terbelah oleh gelak tawa yang bersahut-sahutan.
Di barisan kursi penonton, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, yang akrab disapa Mbak Wali, tampak menikmati setiap detik alur cerita yang tersaji di layar perak. Di hadapan puluhan pasang mata, film bergenre drama, komedi, dan supernatural berjudul Piye To Kih? tengah menggelar home premiere eksklusifnya.
Bagi Mbak Wali, film ini bukan sekadar tontonan pelepas penat. Perpaduan antara ketegangan horor dan komedi khas harian menciptakan daya tarik tersendiri. Namun, ada satu elemen yang paling mencuri perhatiannya: penggunaan bahasa Jawa yang membumi, merangkai pesan moral dari realitas kehidupan sehari-hari.
“Jarang sekali ada film yang menceritakan kehidupan sehari-hari dengan bahasa Jawa. Kreatif banget sih,” ungkapnya dengan nada kagum selepas pemutaran film.
Bukan sebuah kebetulan jika Kota Kediri dipilih sebagai titik labuh penayangan perdana ini. Bagi sang sutradara, Ito Mavin, Kediri menyimpan makna yang teramat personal. Di tanah inilah percikan ide awal Piye To Kih? pertama kali lahir. Ito menyadari betul bahwa tanah Jawa Timur bagian barat ini memendam urat nadi talenta kreatif yang luar biasa, sebuah potensi mentah yang kemudian diwujudkan melalui keterlibatan para komedian lokal kenamaan dari Woko Channel.
Di layar lebar, wajah-wajah yang biasanya menyapa warga lewat layar gawai kini hidup berdampingan dengan deretan bintang nasional. Film ini dibintangi oleh Heri Chandra sebagai Mukidi dan Dara Sarasvati sebagai Sukma, serta diramaikan oleh Sutrisno Agung (Gendut), Eko Dunung (Penyok), Gabriella Desta, Wiyono, Rizka Oktavia, TJ Ruth, Ibnu Gundul, Marwoto, Ivonne Dahler, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, hingga Yono Bakrie.
Kehadiran para kreator lokal di kancah perfilman nasional ini memantik senyum bangga dari Mbak Wali. Ia melihat kisah sukses Woko Channel bukan sekadar pencapaian kelompok, melainkan sebuah mercusuar harapan bagi generasi muda Kediri.
“Saya berharap perjalanan dari kreator Woko Channel ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya yang ada di Kota Kediri,” tuturnya tegas. Di matanya, anak-anak muda tidak boleh hanya berhenti sebagai penonton pasif di bioskop; mereka harus berani melangkah ke balik layar, mencipta karya, dan menorehkan nama di kancah industri kreatif nasional.
Malam itu, kemeriahan home premiere turut dihadiri oleh jajaran penting kota mulai dari Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin, Ketua TP PKK Faiqoh A.M. Qowimuddin, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala BNN, Pj Sekda, para asisten, hingga jajaran kepala perangkat daerah. Kehadiran mereka menegaskan satu pesan: pemerintah daerah berdiri di barisan terdepan untuk merangkul dan menumbuhkan ekosistem ekonomi kreatif lokal.
Ketika tirai bioskop nantinya benar-benar dibuka secara serentak untuk publik pada 19 November 2026 mendatang, Piye To Kih? diharap bukan sekadar menjadi mesin pencetak tawa. Ia adalah simbol kebangkitan, sebuah bukti bahwa dari sudut kota Kediri, talenta-talenta lokal mampu merajut mimpi, menolak “bisu” di hadapan zaman, dan melahirkan karya-karya besar yang menggetarkan nusantara.
“Saya harap ekonomi kreatif di Kota Kediri ini terus tumbuh. Semoga masyarakat terhibur dengan film ini. Dan dari Kota Kediri lahir film-film yang luar biasa,” pungkas Mbak Wali penuh optimisme.(*)






