KEDIRI – Di kaki Gunung Klotok, Kota Kediri batu andesit hitam itu berdiri tegak menembus pergantian zaman. Rongga-rongganya dipahat langsung pada bongkahan batu vulkanik raksasa, menyimpan pahatan relief, aksara kuadrat Jawa Kuno, hingga dugaan penanggalan 1353 Saka (1431 Masehi).
Di tempat ini, tidak ada stalaktit atau stalagmit sebagaimana gua alam pada umumnya; yang ada hanyalah jejak peradaban Hindu-Buddha yang membisu.
Namun, di balik keagungan fisiknya, Gua Selomangleng Kediri menyimpan ironi: batu-batu itu tidak bisa bercerita sendiri. Warisan sejarah yang sarat makna ini kini berada di persimpangan jalan, menantikan penataan kawasan, pemanfaatan teknologi, dan kesiapan sumber daya manusia untuk menghidupkan kembali narasi masa lalunya.
Gua Selomangleng selama ini lekat dengan legenda pertapaan Dewi Kilisuci (Sanggramawijaya Tunggadewi), putri mahkota Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang menolak tahta demi kehidupan spiritual. Meski cerita rakyat itu melekat erat pada identitas Kota Kediri, riset arkeologi menunjukkan lapisan sejarah yang jauh lebih kaya.
Arkeolog Dwi Cahyono pernah menyoroti adanya relief yang mengindikasikan tradisi pemakaman terbuka masa lalu serta inskripsi penting pada dinding gua, membuktikan bahwa kawasan ini merupakan situs lintas masa yang melampaui sekadar cerita pertapaan tunggal.
Tantangan terbesar yang dihadapi situs ini terletak pada penyampaian informasi sejarah kepada para pengunjung. Usulan mendasar datang dari dr. Simon Yosonegoro Lim, seorang dokter asal Ketapang, Kalimantan Barat, sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya yang berkunjung pada akhir Oktober 2026.
Meski terkesan dengan kondisi fisik arca dan relief yang masih terjaga , Simon menyayangkan minimnya media edukasi di lokasi. Ia mengusulkan modernisasi papan informasi dan aktivasi kode QR di setiap sudut situs agar pengunjung dapat memindai keterangan sejarah secara mandiri melalui telepon genggam.
Bagi Simon, situs sejarah harus berfungsi sebagai ruang belajar terbuka, bukan sekadar ruang gelap yang menyisakan tanda tanya, terlebih khususnya bagi anak muda.
” Jika lupa sejarah, kita akan mudah diadu domba dan dibohongi oleh bangsa lain.Oleh karena itu, generasi muda penting untuk mencintai sejarah dan kebudayaan,” papar Simon, Sabtu 31 Oktober 2026.
Kebutuhan akan revitalisasi narasi ini sejalan dengan penataan fisik kawasan yang disuarakan oleh budayawan lokal, Dekky Susanto. Menurutnya, tata ruang Gua Selomangleng perlu dibebaskan dari kesan kumuh dan tertutup. Ia mendorong pembongkaran pagar serta relokasi pedagang di sisi utara panggung hiburan agar pandangan ke arah gua menjadi lebih terbuka.
” Untuk pedagang bisa disentralisasi, yang lebih representatif, sehingga keberadaan pedagang bisa berkesinambungan dengan tempat sejarah,” terangnya.
Lebih dari sekadar penataan fisik, Dekky menggagas pembentukan zona spiritual dan seni bernama Panggung Kadewatan yakni sebuah pelataran tepat di depan mulut gua yang dikhususkan untuk ritual puja semedi, pertunjukan tari klasik Ramayana, dan seni teatrikal sejarah khas Kediri.
Dengan memisahkan hiburan umum di area bawah dan kegiatan bernilai budaya di area atas, keheningan dan keagungan spiritual gua tetap terjaga. Konsep ini dirancang menyatu dengan integrasi Museum Airlangga dan fasilitas mini amfiteater (sebuah gelanggang terbuka yang digunakan untuk pertunjukan hiburan dan pertunjukan seni.red) menghadap ke gua selomangleng Kediri.
“Sebuah pelataran yang dibangun tepat pada depan panggung pertunjukan. Area ini difungsikan sebagai tempat puja semedi serta berbagai kegiatan lain yang dapat menarik minat masyarakat untuk datang,” urai Dekky.
Menanggapi kebutuhan penyampaian cerita dan pelayanan wisatawan, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri mulai mengambil langkah konkret. Kepala Disbudparpora, Un Achmad Nurdin, mengatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan pelatihan pemandu wisata (tour guide) khusus untuk kawasan Gua Selomangleng dan Museum Airlangga.
” Kita.masih proses persiapan, sehingga selama ini apabila ada tamu yang baru banyak baru kita memanggil guide,” ungkapnya.
Langkah ini diambil untuk mengubah pola lama di mana pemandu hanya dihadirkan saat rombongan besar datang. Ke depan, pengunjung harian diharapkan dapat langsung mendapatkan pendampingan informasi sejarah yang mendalam.
Bongkahan batu andesit di kaki Gunung Klotok itu akan terus bertahan melintasi waktu. Namun, tanpa papan informasi digital, penataan ruang yang harmonis, dan pemandu yang cakap, warisan tersebut berisiko kehilangan artinya bagi generasi mendatang.
Di Gua Selomangleng, ikhtiar menyambung lidah masa lalu menuju masa depan kini baru saja dimulai.(*)







