BANYUWANGI – Festival Gandrung Sewu 2026 menghadirkan inovasi baru melalui pertunjukan malam bertajuk Glow in the Dark di Pantai Boom Marina, Banyuwangi, Sabtu (24/10/2026).
Memasuki tahun ke-14 penyelenggaraan, festival tari kolosal ini untuk pertama kalinya digelar pada malam hari dengan memadukan seni tradisional, tata cahaya, dan teknologi pertunjukan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, Gandrung Sewu telah berkembang menjadi panggung kebanggaan daerah yang tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga memperkenalkan sejarah dan identitas budaya Banyuwangi kepada masyarakat luas.
“Selama lebih dari satu dekade lebih, ribuan penari Gandrung telah tampil bersama di kawasan Pantai Boom Marina, dengan latar Selat Bali. Setiap pergelaran membawa tema berbeda, mengangkat kekayaan sejarah, adat, perjuangan, hingga keberagaman budaya yang hidup di Banyuwangi,” kata Ipuk, Jumat (23/10/2026).
Pada 2026, Gandrung Sewu mengusung tema Kembang Dermo yang mengangkat nilai adat dan tradisi yang tumbuh serta berkembang di tengah masyarakat Banyuwangi.
Menurut Ipuk, perubahan waktu pertunjukan menjadi malam hari membuka peluang eksplorasi artistik yang lebih luas. Permainan cahaya dan visual diharapkan memperkuat kemegahan gerakan ribuan penari tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang menjadi akar pertunjukan.
“Perubahan waktu pertunjukan bukan sekadar menghadirkan suasana berbeda. Panggung malam membuka ruang eksplorasi artistik yang lebih luas, dengan permainan cahaya dan visual yang memperkuat kemegahan gerak ribuan penari Gandrung,” ujarnya.
Gandrung Sewu pertama kali digelar pada 2012 dengan tema Jejer Gandrung yang mengisahkan kelahiran Tari Gandrung. Pada 2013, tema Paju Gandrung mengangkat kehidupan dan tradisi pertunjukan Gandrung pada masa lalu.
Dalam perkembangannya, festival ini menghadirkan beragam tema yang berkaitan dengan sejarah, perjuangan, dan keberagaman budaya. Tema-tema tersebut antara lain Seblang Subuh pada 2014, Podo Nonton pada 2015, Seblang Lukinto pada 2016, dan Kembang Pepe pada 2017.
Selanjutnya, tema Layar Kumendung pada 2018 dan Panji-Panji Sunangkoro pada 2019 mengangkat kisah perlawanan terhadap penjajahan. Setelah itu, Gandrung Sewu memperluas jangkauan melalui tema Gandrung Sewu Nusantara pada 2021 dan Sumunare Tlatah Blambangan pada 2022.
Pada 2023, festival mengusung tema Omprog: The Glory of Art, dilanjutkan Payung Agung: The Diversity of Culture pada 2024 dan Selendang Sang Gandrung pada 2025 yang membawa pesan tentang warisan budaya, cinta kasih, serta perjuangan masyarakat Osing dalam menjaga tradisi.
Ipuk mengatakan, Gandrung Sewu juga menjadi sarana regenerasi penari muda dan pembelajaran sejarah lokal. Selain itu, penyelenggaraan festival diharapkan mendukung pengembangan pariwisata serta menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Tari Gandrung sendiri merupakan kesenian khas Banyuwangi yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Osing. Kata “gandrung” bermakna terpikat atau mencintai. Kesenian ini menjadi salah satu penanda identitas budaya Banyuwangi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Gandrung Sewu 2026 dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (24/10/2026), mulai pukul 18.30 WIB di Pantai Boom Marina, Banyuwangi. (*)







