SURABAYA – Turnamen Bahlil Mini Soccer Asyik Menuju Puncak yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar tak sekadar menjadi ajang adu kemampuan sepak bola antarpelajar. Kompetisi ini juga mencatatkan prestasi di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan melibatkan 176 tim dan 2.640 pemain serta ofisial.
Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia hadir langsung menyaksikan partai final sekaligus menyerahkan trofi kepada tim juara di Lapangan THOR Surabaya, Minggu (18/10).
Pertandingan puncak mempertemukan SMAN 3 Bojonegoro melawan SMAN Ngoro Jombang. Dalam laga tersebut, SMAN 3 Bojonegoro keluar sebagai kampiun setelah menundukkan lawannya dengan skor meyakinkan 5-2.
Bahlil mengapresiasi penyelenggaraan turnamen yang melibatkan ribuan pelajar tersebut. Menurutnya, kompetisi olahraga tidak hanya menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga sarana membentuk karakter generasi muda, terutama dalam hal sportivitas, kerja sama, dan militansi.
Ia menyebut para peserta sebagai representasi generasi Z yang memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan Indonesia.
“Saya ingin mengatakan bahwa kalian yang paling hebat untuk Gen Z sekarang ini,” kata Bahlil.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada DPD Partai Golkar Jawa Timur di bawah kepemimpinan Ali Mufthi beserta jajaran yang telah menyelenggarakan kompetisi tersebut.

Bahlil menilai sepak bola memiliki filosofi sederhana yang relevan dengan kehidupan, termasuk dalam berpolitik. Setiap pertandingan menuntut para pemain berjuang secara maksimal, mengikuti aturan, serta menerima hasil akhir dengan lapang dada.
“Politik itu fair-fair aja, sama dengan main bola. Menang, ya sudah menang. Kalau kalah, ya sudah kalah, tunggu pertandingan lagi, baru ikut main untuk merebut kemenangan,” ujarnya.
Menurut Bahlil, sikap menerima kemenangan maupun kekalahan merupakan bagian penting dari kedewasaan. Ia mengkritik kebiasaan sebagian orang yang sulit menerima hasil kompetisi dan justru menginginkan kemenangan tanpa melalui perjuangan yang semestinya.
“Jangan kalah dalam bermain bola, tapi pengin mendapatkan piala. Kalau pengin mendapatkan piala, berjuanglah kau sebesar-besarnya untuk memenangkan kompetisi,” tegasnya.
MURI Catat 176 Tim, Libatkan 2.640 Peserta
Selain persaingan di lapangan, turnamen ini mencatatkan capaian tersendiri melalui penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia. Representatif MURI, Sri Widayati, menyerahkan piagam penghargaan kepada Bahlil sebagai bentuk pengakuan atas penyelenggaraan turnamen mini soccer antarpelajar dengan jumlah tim terbanyak.
Sri menjelaskan, kompetisi tersebut diikuti 176 tim dengan total 2.640 pemain dan ofisial. Jumlah itu menjadi dasar pencatatan rekor MURI untuk turnamen mini soccer antarpelajar.
“MURI memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan ini. Pada hari ini kami mengumumkan sekaligus mengesahkan bahwa turnamen mini soccer antarpelajar dengan tim terbanyak, 176 tim dengan jumlah pemain dan ofisial 2.640 orang, resmi tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia,” kata Sri.
Ia menilai kegiatan tersebut mencerminkan kepedulian terhadap pembinaan prestasi anak muda. Melalui kompetisi olahraga, para pelajar tidak hanya diasah kemampuan teknisnya, tetapi juga didorong membangun solidaritas untuk mencapai prestasi bersama.
Pengakuan MURI itu sekaligus menambah catatan penyelenggaraan turnamen yang mempertemukan pelajar dari berbagai daerah. Kompetisi tersebut berlangsung melalui rangkaian pertandingan di 11 zona sebelum mempertemukan dua tim terbaik di partai final.
Senior Harus Belajar Sportivitas dari Anak Muda
Bahlil berharap turnamen tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan perayaan hari ulang tahun partai. Ia meminta agar pembinaan melalui olahraga terus dilanjutkan karena dapat menjadi sarana menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi muda.
Ia bahkan menilai generasi muda dapat menjadi contoh bagi kalangan senior, terutama dalam menjaga sportivitas ketika menghadapi persaingan.
“Kalau para seniornya enggak bisa sportif, biarlah anak-anak dan junior-junior yang mengajari kita untuk sportif,” ujarnya.
Bahlil juga mengingatkan agar seseorang tidak baru ingin mengambil peran sebagai pemimpin setelah pertandingan berakhir. Menurutnya, kepemimpinan dan keinginan meraih kemenangan harus dibuktikan melalui perjuangan selama kompetisi berlangsung.
“Jangan pengin menjadi kapten kesebelasan kalau pertandingan sudah selesai,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai yang ditanamkan melalui sepak bola dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat maupun politik. Persaingan, kata Bahlil, semestinya dijalani dengan cara yang adil tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap pihak lain.
Di akhir sambutannya, Bahlil mengapresiasi kolaborasi penyelenggara dengan Radar dan meminta agar kegiatan serupa dilanjutkan. Ia mengaku tetap berupaya hadir di tengah agenda rapat yang harus dijalaninya karena telah berjanji kepada jajaran Golkar Jawa Timur dan ingin memberikan dukungan langsung kepada para pelajar.
Bagi Bahlil, keterlibatan ratusan tim dalam turnamen tersebut menjadi gambaran bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan ruang kompetisi yang sehat. Melalui olahraga, para pelajar diharapkan tidak hanya mengejar gelar juara, tetapi juga membawa pulang pelajaran tentang disiplin, kerja sama, dan sportivitas. (*)







