banner 400x130

Bursa Ketua IMI Surabaya Menghangat, Yusuf Ibnu Buka Peluang Maju

SURABAYA – Menjelang berakhirnya masa kepengurusan Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Surabaya pada Desember 2026, dinamika regenerasi kepemimpinan mulai terasa. Sejumlah figur mulai diperbincangkan, salah satunya Bendahara IMI Surabaya, Yusuf Ibnu.

Yusuf bahkan tak menutup pintu jika dipercaya maju dalam bursa calon Ketua IMI Surabaya. Ia mengaku siap mengemban amanah tersebut apabila mendapat dukungan dari keluarga besar organisasi.

“Insya Allah saya siap maju. Kalau memang diberikan kepercayaan dan dukungan dari teman-teman, saya siap mengemban amanah tersebut. Bagi saya, ini bukan semata-mata soal jabatan, tetapi bagaimana kita bersama-sama membawa IMI Surabaya menjadi lebih baik ke depan,” kata Yusuf saat ditemui di sela pembukaan Surabaya Rising Champion 2026 di Halaman Balai Kota Surabaya, Minggu (13/9/2026).

Pernyataan tersebut membuat nama Yusuf semakin kuat dalam percakapan mengenai figur yang berpotensi memimpin IMI Surabaya berikutnya.

Terlebih, masa jabatan Ketua IMI Surabaya Samsurin disebut akan berakhir pada Desember 2026. Meski demikian, di tengah munculnya dinamika tersebut juga beredar informasi mengenai pencopotan Samsurin dari jabatannya oleh Pengprov IMI Jawa Timur.

Hingga kini, informasi mengenai pencopotan tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi dari Pengprov IMI Jawa Timur.

Yusuf pun memilih bersikap hati-hati. Ia tidak ingin mendahului proses organisasi maupun berspekulasi mengenai posisi kepemimpinan IMI Surabaya.

“Saya tidak ingin mendahului proses. Kita ikuti mekanisme organisasi. Yang terpenting adalah bagaimana IMI Surabaya ke depan tetap solid dan mampu memberikan manfaat bagi perkembangan olahraga otomotif,” ujarnya.

Jika nantinya mendapat mandat memimpin IMI Surabaya, Yusuf mengaku memiliki perhatian besar terhadap penguatan kebersamaan antar-elemen otomotif.

Menurut dia, IMI tidak hanya berkaitan dengan pembalap dan kompetisi, tetapi juga menjadi wadah yang menaungi klub, komunitas, atlet hingga generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap dunia otomotif.

“Kita ingin IMI menjadi rumah bersama bagi seluruh insan otomotif. Klub, komunitas, pembalap, atlet dan seluruh stakeholder harus bisa berjalan bersama. Kita tidak boleh terpecah, karena kekuatan IMI ada pada kebersamaan,” tegasnya.

Arderio Sambut Positif

Kemunculan Yusuf sebagai salah satu figur yang disebut berpotensi maju mendapat respons positif dari Ketua KONI Kota Surabaya Arderio Hukom, SH., M.Kn.

Arderio menilai regenerasi kepemimpinan merupakan hal yang wajar sekaligus penting bagi keberlangsungan organisasi olahraga. Terlebih jika terdapat figur muda yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk berkontribusi.

“Saya sangat mengapresiasi kalau Yusuf Ibnu menjadi Ketua IMI Kota Surabaya. Ini menjadi hal yang positif karena memberikan kesempatan kepada pemimpin-pemimpin muda untuk ikut membangun dan mengembangkan olahraga di Kota Surabaya,” ujar Arderio.

Menurutnya, organisasi olahraga membutuhkan figur yang tidak hanya memiliki kapasitas, tetapi juga kemauan untuk mengabdikan diri dan menjaga soliditas organisasi.

“Kalau ada anak muda yang memiliki kemauan, kemampuan dan semangat untuk mengabdi bagi olahraga, tentu harus diberikan ruang dan dukungan. Yang penting bagaimana organisasi tetap solid dan prestasi olahraga terus meningkat,” katanya.

Eri: Jangan Takut Beri Ruang Anak Muda

Dorongan terhadap regenerasi kepemimpinan olahraga juga disampaikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Saat membuka Surabaya Rising Champion 2026 di Halaman Balai Kota Surabaya, Minggu (13/9/2026), Eri mengajak seluruh pihak memberikan ruang lebih luas kepada generasi muda untuk mengambil peran dalam pembangunan olahraga.

“Mari kita dukung pemimpin-pemimpin muda olahraga. Berikan mereka kesempatan untuk tampil, berbuat dan berkarya. Dengan dukungan bersama, olahraga Surabaya akan semakin maju,” kata Eri.

Bagi Eri, regenerasi bukan sekadar mengganti figur dalam sebuah organisasi. Lebih dari itu, proses tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan keberlanjutan pembinaan olahraga di Surabaya.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat Yusuf yang ingin membawa IMI Surabaya melalui pendekatan kolaboratif jika nantinya mendapat kepercayaan memimpin organisasi.

Yusuf menegaskan dirinya tidak ingin bekerja sendiri. Ia ingin seluruh elemen otomotif dilibatkan dalam menentukan arah organisasi.

“Kalau memang dipercaya, Insya Allah saya siap. Saya ingin bersama-sama membangun IMI Surabaya, bukan bekerja sendiri. Kita harus merangkul semua klub, komunitas, atlet dan seluruh insan otomotif,” pungkasnya.

Dengan masa kepengurusan Samsurin yang disebut berakhir pada Desember 2026, dinamika menuju kepemimpinan baru IMI Surabaya kini mulai menjadi perhatian. Yusuf Ibnu menjadi salah satu figur yang telah menyatakan kesiapan, sementara keputusan mengenai proses dan mekanisme pergantian kepemimpinan tetap berada dalam ranah organisasi IMI.
[14/9 17.29] Fahrizal Arnas Transp: Tiga Atlet Triathlon Jatim Siap Debut di Asian Games 2026, Bidik Lima Besar

SURABAYA – Tiga atlet triathlon Jawa Timur akan menjadi bagian dari kontingen Indonesia yang berlaga di Asian Games 2026. Bersama dua pelatih, mereka datang ke KONI Jawa Timur untuk berpamitan sekaligus meminta doa restu sebelum bertolak ke ajang olahraga multicabang tingkat Asia tersebut.

Ketua Pengprov Federasi Triathlon Indonesia (FTI) Jawa Anastasia Kirana Putri Ardela mengatakan, kedatangan tim triathlon itu menjadi bagian dari persiapan akhir menghadapi Asian Games 2026. Meski ketiga atlet yang diberangkatkan terbilang masih muda dan akan menjalani debut di Asian Games, tim pelatih tetap memasang target realistis dengan membidik posisi lima besar.

“Tujuan kami datang ke KONI Jatim salah satunya untuk berpamitan, kemudian meminta izin dan doa restu sebagai instansi yang membina kami, baik pelatih, pengprov maupun atlet yang akan berjuang di Asian Games,” ujar Kirana.

Menurutnya, persiapan menghadapi Asian Games tidak dilakukan secara instan. Program latihan tetap berjalan meski sempat terjadi penghentian sementara pemusatan latihan nasional (Pelatnas).

Kirana menyebut, para atlet tetap menjalani latihan secara mandiri dengan dukungan Pengprov dan KONI Jatim. Karena itu, penghentian Pelatnas tidak sampai membuat program pembinaan terhenti.

“Pelatnas sempat dihentikan sekitar lima bulan. Kami mulai berjalan Maret, kemudian pertengahan April dihentikan sampai Agustus. Tetapi itu tidak mengurangi semangat anak-anak. Mereka tetap berlatih dan fokus,” katanya.

Program pembinaan tersebut juga tidak hanya diarahkan untuk Asian Games. Para atlet diproyeksikan mengikuti berbagai single event, mulai dari kejuaraan Asia hingga kejuaraan dunia.

Menurut Kirana, kalender kompetisi triathlon cukup padat. Hampir setiap bulan terdapat kejuaraan yang bisa diikuti atlet di berbagai negara Asia, seperti China dan Jepang. Kondisi itu dimanfaatkan untuk menjaga jam terbang sekaligus mengukur perkembangan performa atlet.

“Tidak hanya mengejar major games. Kami lebih banyak mengarah ke single event, kejuaraan Asia maupun dunia. Tinggal kami sebagai pelatih membuat timeline, menentukan target dan arah atlet,” ujarnya.

Menghadapi Asian Games, tim pelatih menyadari tantangan yang dihadapi cukup berat. Sebab, ketiga atlet Indonesia yang turun merupakan pendatang baru di ajang tersebut. Mereka akan berhadapan dengan atlet-atlet dari negara yang memiliki tradisi kuat di triathlon, seperti Jepang, China, Korea Selatan dan Kazakhstan.

“Kalau berbicara data dan performa, kami optimistis bisa masuk lima besar. Jepang dan China cukup bagus, begitu juga Korea dan Kazakhstan,” katanya.

Asian Games 2026 sekaligus akan menjadi pengalaman penting bagi para atlet Jatim untuk mengukur kemampuan sebelum menghadapi target-target berikutnya, termasuk PON.

Pengalaman di pentas Asia diharapkan menjadi modal untuk meningkatkan kualitas atlet menuju kompetisi yang lebih besar. Apalagi, Jawa Timur memiliki rekam jejak cukup kuat dalam cabang olahraga triathlon.

Pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, triathlon Jatim mampu meraih empat medali emas dan dua perak dari enam nomor yang dipertandingkan. Hasil tersebut menunjukkan potensi besar cabang olahraga tersebut dalam menyumbangkan medali bagi kontingen Jatim.

“Triathlon termasuk salah satu cabang unggulan. Di PON Aceh-Sumut kami mendapatkan empat emas dan dua perak dari enam nomor,” katanya.

Kekuatan tersebut tidak terlepas dari pembinaan yang berjalan berjenjang. Regenerasi atlet juga terus dilakukan sehingga tidak terjadi kekosongan generasi.

Dukungan fasilitas latihan menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kesinambungan pembinaan. Atlet mendapatkan program latihan yang cukup padat, yakni pagi, siang dan sore, dengan dukungan fasilitas untuk latihan renang, sepeda dan lari.

“Sekarang kami juga berusaha membangun fasilitas untuk anak-anak latihan, termasuk gym dan tempat latihan baru agar mereka bisa berlatih lebih baik,” ujarnya.

Ia berharap keberangkatan tiga atlet Jatim ke Asian Games 2026 tidak sekadar menjadi pengalaman debut. Sebagai bagian dari tim Indonesia, mereka diharapkan mampu memberikan prestasi terbaik sekaligus membawa nama Jawa Timur di level internasional.

“Karena mereka mewakili Indonesia, tentu kami berharap ada prestasi luar biasa. Mudah-mudahan dari Indonesia, khususnya Jawa Timur, bisa memberikan karya dan prestasi terbaik,” pungkasnya. (*)

Penulis: Fahrizal Arnas