MAGETAN – Dua inovasi diikutsertakan RS dr. Sayidiman dala Inovasi Daerah (INODA) Award 2026. Lomba INODA Award 2026 digagas Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Magetan sebagai upaya mendorong perangkat daerah dan berbagai pihak untuk terus mengembangkan inovasi dalam pelayanan publik.
Dua inovasi tersebut berhasil menyabet Penghargaan dalam kategori terbaik 3 dan terbaik 5.” Penghargaan lomba inovasi tersebut diserahkan pada malam resepsi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pendopo Surya Graha.
Direktur RSUD dr. Sayidiman Magetan, dr. Rochmat Santoso, mengatakan dua penghargaan tersebut diraih melalui inovasi Pare Rosita dan Proksimil.
“Alhamdulillah kami mendapat dua penghargaan, inovasi Pare Rosita dan inovasi Proksimil,” ujar dr Rochmat Santoso.
Dijelaskan Pare Rosita merupakan inovasi pemanfaatan air reject dari proses Reverse Osmosis (RO) pada layanan hemodialisis untuk menyiram tanaman di lingkungan rumah sakit.
Dalam proses hemodialisis, kebutuhan air cukup besar. “Air reject itu kami gunakan untuk menyirami tanaman. Kalau sekitar 65 liter dikalikan 20 pasien dalam sehari, bisa mencapai 1.200 sampai 1.500 liter,” lanjutnya.
Pemanfaatan air tersebut tidak hanya mengurangi pemborosan, tetapi juga mampu menekan biaya operasional rumah sakit. Dalam setahun, efisiensi yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar Rp34 juta.
“Jadi hampir semua taman yang ada di RSUD dr. Sayidiman Magetan sudah menggunakan air tersebut. Itu bukan limbah yang kemudian dibuang, tetapi kami manfaatkan kembali,” katanya.
Sementara itu, inovasi kedua, yakni Proksimil, berkaitan dengan penggunaan apron pelindung radiasi bagi ibu hamil saat menjalani pemeriksaan radiologi.
Rochmat menerangkan, inovasi tersebut memanfaatkan bahan daur ulang dari perlengkapan medis yang sudah tidak terpakai, termasuk tiang infus serta apron yang telah rusak. Perlengkapan tersebut kemudian dimodifikasi agar pasien tidak perlu mengenakan apron timbal yang cukup berat.
Teman-teman mempunyai ide menggunakan bahan recycle dari bekas infus dan baju yang rusak. Kemudian dimodifikasi menyesuaikan tinggi badan pasien.
Dengan inovasi tersebut, pasien cukup menggunakan sistem penyangga yang dapat disesuaikan dengan tinggi badan, sehingga tidak perlu mengenakan apron pelindung secara langsung.
Inovasi Proksimil menjadi salah satu inovasi yang dikembangkan RSUD dr. Sayidiman Magetan dan diharapkan dapat menjadi percontohan bagi rumah sakit lainnya.
“Tahun ini rencananya kami daftarkan HAKI. Kalau lolos dan HAKI-nya keluar, nantinya bisa diproduksi secara massal,” ungkapnya.
Ia menegaskan, penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi RSUD dr. Sayidiman Magetan untuk terus melahirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus meningkatkan efisiensi pelayanan rumah sakit.
“Kami selalu berupaya berinovasi dalam hal-hal yang baik untuk masyarakat dan juga untuk efisiensi rumah sakit. Semoga inovasi ini bisa berguna bagi masyarakat,” tandasnya.
Hal ini membuka peluang inovasi yang dikembangkan RSUD dr. Sayidiman dapat diterapkan di rumah sakit lain selama tidak bertentangan dengan ketentuan hak kekayaan intelektual yang nantinya berlaku.
“Kalau rumah sakit lain bisa mengaplikasikan, kami persilakan. Prinsipnya bagaimana inovasi ini bisa bermanfaat untuk masyarakat luas,” pungkas Rochmat. (*)







