KEDIRI WartaTransparansi.com – BUMN Holding Pangan ID FOOD melalui PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI mengintervensi pasar untuk menstabilkan harga ayam broiler di tingkat peternak yang tengah terpuruk. Langkah ini diwujudkan dengan menggandeng Surya Kencana Slaughterhouse untuk menyerap ayam hidup milik peternak mandiri di kawasan Kediri dan sekitarnya, sekaligus menargetkan lonjakan kapasitas produksi bakso hingga 50 ton per hari.
Komitmen sinergi hulu-hilir tersebut dipaparkan dalam forum diskusi bertajuk “Sinergi Peternakan dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) untuk Membangun Ekosistem Peternakan Berkelanjutan” di Ruang Bromo di salah satu Hotel yang berlokasi kawasan Simpang Lima Gumul (SLG), Kabupaten Kediri. Forum tersebut dihadiri jajaran manajemen PT RNI, perwakilan BUMN pangan, akademisi, serta puluhan mitra peternak di Kediri.
Penyerapan ayam hidup dari peternak lokal ini dirancang terintegrasi. Ayam yang diserap akan dipotong dan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti bakso, nugget, sosis, dimsum, hingga tempura, sebelum didistribusikan ke jaringan ritel modern, hotel, restoran, kafe (Horeka), serta industri pengolahan pangan nasional.
Senior Executive Vice President (SEVP) Commercial ID Food, Yosdian Adi Pramono, menegaskan penyerapan ini dilakukan dengan sistem pembayaran tunai dan mekanisme beli putus sesuai harga kesepakatan bersama koperasi serta standar mutu rumah potong.
“Kami hadir di Kediri untuk meng-offtake hasil produksi peternak. Harapannya, meski langkah ini masih terbatas, dapat membantu peternak memperoleh harga yang lebih baik,” kata Yosdian usai kegiatan, Kamis 30 Juli 2026.
Yosdian menjelaskan penyerapan ayam broiler berspesifikasi khusus ini dilakukan berkala setiap bulan. ID Food memastikan seluruh komoditas yang diserap telah memiliki pasar penampung (captive market) yang pasti, mulai dari pasar NPG, sektor Horeka, hingga industri olahan skala besar.
“Kami sudah memiliki captive market. Yang kami butuhkan adalah pasokan ayam, sehingga kami bekerja sama dengan koperasi dan rumah potong unggas untuk menyerap produksi peternak di Kediri dan sekitarnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembagian hasil kepada anggota koperasi sepenuhnya menjadi kewenangan koperasi mitra, sementara ID Food berfokus menjaga kepastian pembayaran tunai agar penyerapan produksi berjalan berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Surya Kencana Slaughterhouse, Mochamad Riyanto, menyampaikan bahwa pasokan ayam dari peternak mandiri, koperasi, dan rumah potong unggas (RPU) menjadi pilar utama peningkatan kapasitas pabriknya. Saat ini produksi bakso di tempatnya mencapai 7,5 ton per hari dan diproyeksikan melonjak tajam setelah bersinergi dengan ID Food.
“Dari pasokan ayam hidup, kami potong dan olah menjadi berbagai produk siap saji. Lewat kerja sama dengan ID Food, produksi bakso akan kami tingkatkan secara bertahap menuju 30 hingga 50 ton per hari,” ujarnya.
Selain olahan siap saji, Surya Kencana memasok karkas, ayam beku, dan daging boneless hingga ke luar Pulau Jawa. Seluruh proses penanganan dibantu pengawasan tim dokter hewan internal guna menjamin keamanan pangan.
Riyan menegaskan pola kemitraan yang dibangun dengan peternak daerah bersifat terbuka tanpa batas waktu tertentu.
“Tidak ada batasan waktu selama kerja sama memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Kami terbuka bagi peternak maupun mitra daerah yang ingin berkembang bersama,” katanya.
Sinergi ID Food dan Surya Kencana ini diharapkan tidak hanya menciptakan batas bawah harga yang melindungi peternak rakyat, namun juga memperkuat ketersediaan sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat luas.(*)







