KEDIRI WartaTransparansi.com – Lari bukan hanya soal kecepatan. Di Kota Kediri, olahraga ini mulai dipandang sebagai jalan membangun kota. Dari trotoar yang nyaman hingga geliat UMKM dan wisata, semuanya diyakini dapat tumbuh dari langkah-langkah kecil para pelari.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Kediri, Imam Wihdan Zarkasyi, yang juga dikenal sebagai pengusaha daur ulang sampah di Kota Kediri. Menurutnya, komunitas lari memiliki peran lebih besar daripada sekadar menjadi wadah berolahraga. Komunitas ini dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun budaya hidup sehat sekaligus menggerakkan ekonomi, pariwisata, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia mengatakan olahraga lari mengajarkan nilai penting tentang konsistensi. Dalam pandangannya, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang berlari paling cepat, melainkan siapa yang mampu menjaga ritme dan tetap melangkah hingga mencapai tujuan.
“Bagi sebagian orang, lari mungkin hanya olahraga. Namun bagi saya, lari adalah sebuah filosofi kehidupan. Kita belajar bahwa tidak semua tujuan dicapai dengan berlari sekencang-kencangnya. Justru yang paling penting adalah mampu menjaga ritme, konsisten melangkah, dan tidak berhenti ketika lelah,” ujarnya, di acara KNPI run yang diselenggarakan di Taman Tirtoyoso, Kota Kediri, Minggu 26 Juli 2026.
Menurut politisi yang akrab disapa Pak Lek Imam, filosofi tersebut relevan dengan pembangunan Kota Kediri. Kota yang berkembang tidak dibangun melalui langkah instan, tetapi melalui kerja sama yang terarah, berkelanjutan, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Ia membayangkan Kota Kediri menjadi kota yang ramah bagi para pelari. Fasilitas publik seperti trotoar yang nyaman, jalur lari yang aman, ruang terbuka hijau, hingga taman kota yang aktif dapat mendorong masyarakat menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
“Begitu pula membangun Kota Kediri. Kota yang maju bukan dibangun dengan langkah yang tergesa-gesa, melainkan dengan langkah yang terarah, konsisten, dan dilakukan bersama-sama,” katanya.
Masih kata, Pak Lek Imam menilai komunitas lari juga dapat menjadi sarana promosi daerah. Melalui kegiatan seperti heritage run, river run, maupun night run, para pelari dapat diajak mengenal sejarah Kota Kediri, menikmati destinasi wisata, sekaligus mendukung pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, apabila kegiatan tersebut digelar secara rutin, Kediri berpotensi menjadi destinasi sport tourism. Kehadiran ribuan pelari dari luar daerah tidak hanya memberi dampak bagi dunia olahraga, tetapi juga meningkatkan kunjungan wisata, okupansi hotel, penjualan kuliner, hingga produk-produk lokal.
Selain itu, komunitas lari dinilai mampu menjadi gerakan sosial yang mengajak anak-anak mencintai olahraga sejak dini, mendorong generasi muda menjauhi penyalahgunaan narkoba, serta membangun budaya hidup sehat di tengah masyarakat.
“Karena pada akhirnya, kota yang hebat bukan hanya kota dengan gedung-gedung tinggi, tetapi kota yang dipenuhi warganya yang sehat, saling menyapa, saling mendukung, dan bergerak bersama menuju masa depan,” tuturnya.
Di akhir penyampaiannya, Pak Lek Imam mengajak seluruh komunitas lari terus menjaga sportivitas, menghormati sesama pengguna jalan, dan menginspirasi masyarakat untuk aktif bergerak.
“Kediri Berlari, Kediri Berseri. Langkah Sehat, Guyub Menguat, Kota Hebat,” pungkasnya.(*)







