banner 400x130

Belasungkawa Megawati dan Jejak Diplomasi Historis Indonesia–Iran

Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim As

SURABAYA – Ucapan belasungkawa Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei memunculkan beragam tafsir di ruang publik. Namun, bagi pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim As, pernyataan tersebut lebih tepat dibaca sebagai refleksi politik luar negeri Indonesia yang berakar pada sejarah panjang, bukan sekadar respons terhadap dinamika geopolitik mutakhir.

Menurut Surokim, hubungan Indonesia dan Iran dibangun di atas fondasi yang telah mengakar sejak era Presiden Soekarno. Kesamaan pengalaman sebagai bangsa yang pernah dijajah, semangat anti-kolonialisme, serta komitmen memperjuangkan kedaulatan nasional menjadi modal historis yang terus memengaruhi relasi kedua negara.

Dalam perspektif hubungan internasional, modal itu dikenal sebagai historical capital, yakni akumulasi kepercayaan dan pengalaman diplomatik yang terbentuk lintas generasi.

Ia menilai ucapan belasungkawa Megawati merupakan wujud penghormatan terhadap nilai kemanusiaan sekaligus konsistensi diplomasi Indonesia yang menjunjung prinsip bebas aktif. Dalam praktik hubungan internasional, ungkapan duka kepada pemimpin negara lain tidak selalu bermakna dukungan terhadap seluruh kebijakan politik negara tersebut, melainkan penghormatan atas hubungan antarbangsa dan nilai-nilai kemanusiaan.

Surokim juga mengingatkan bahwa Megawati memiliki rekam jejak diplomatik dengan Iran, termasuk saat menghadiri Konferensi D-8 di Teheran pada 2004. Pengalaman tersebut memperkuat pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesinambungan hubungan bilateral yang telah dibangun sejak masa awal kemerdekaan.

Di tengah dinamika politik global yang semakin kompleks, sikap tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa diplomasi Indonesia tidak hanya berpijak pada kepentingan sesaat, tetapi juga pada memori sejarah, solidaritas antarbangsa, penghormatan terhadap kedaulatan, serta komitmen menolak kolonialisme dan segala bentuk agresi.

(zal/min)