MALANG, WartaTransparansi.com – Di tengah tingginya aktivitas kegempaan di wilayah Jawa Timur, kolaborasi antarinstansi menjadi kunci untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana. Semangat itulah yang mengemuka saat Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Jawa Timur berkunjung ke Kantor BMKG Stasiun Geofisika Malang di Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Rabu (8/7/2026).
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Rico Kardoso, menyambut baik kunjungan Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edi Purwinarto. Menurutnya, sinergi antara BMKG dan PMI sangat penting untuk mempercepat penyebaran informasi kebencanaan sekaligus mendukung respons cepat ketika terjadi gempa bumi maupun potensi tsunami.
“Kolaborasi ini menjadi langkah strategis agar informasi kebencanaan dapat diterima lebih cepat sehingga penanganan darurat dapat dilakukan secara lebih efektif,” ujar Rico.
Dalam kunjungan tersebut, jajaran PMI Jawa Timur diajak melihat secara langsung sistem operasional BMKG Stasiun Geofisika Malang yang bertugas memantau aktivitas kegempaan serta memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami bagi masyarakat Jawa Timur dan wilayah sekitarnya.
Rico menjelaskan, seluruh informasi gempa bumi maupun peringatan dini tsunami dapat diakses masyarakat secara real time melalui aplikasi Info BMKG maupun layanan Warning Receiver System (WRS) BMKG. Kecepatan informasi tersebut menjadi faktor penting dalam mendukung pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah, PMI, maupun para pemangku kepentingan saat terjadi keadaan darurat.
Di balik sistem pemantauan tersebut, BMKG mencatat aktivitas kegempaan yang cukup tinggi. Wilayah kerja Stasiun Geofisika Malang yang meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merekam rata-rata 20 hingga 30 kejadian gempa bumi setiap hari. Meski demikian, sebagian besar gempa berkekuatan kecil sehingga tidak dirasakan masyarakat dan tidak menimbulkan kerusakan.
Karena itu, Rico mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial, khususnya mengenai prediksi gempa bumi. Hingga saat ini, gempa belum dapat diprediksi secara pasti sebelum terjadi sehingga masyarakat diminta hanya mengacu pada informasi resmi yang disampaikan BMKG.
“Yang terpenting adalah tetap tenang, waspada, mengenali potensi bahaya di wilayah masing-masing, serta memahami langkah-langkah kesiapsiagaan. Dengan begitu, ketika bencana terjadi masyarakat sudah mengetahui tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko korban jiwa,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Jawa Timur memiliki dua sumber utama aktivitas kegempaan. Pertama, zona subduksi di selatan Pulau Jawa akibat pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Kedua, keberadaan sejumlah sesar aktif yang membentang di daratan Pulau Jawa dan berpotensi memicu gempa tektonik.
Menurut Rico, pemahaman terhadap potensi ancaman tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Saat ini, Jawa Timur memiliki tiga kantor BMKG SURABAYA (Juanda) Pasuruan, namun BMKG Stasiun Geofisika Malang yang berkedudukan di Karangkates mendapat tugas utama memberikan layanan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami bagi wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.
Melalui penguatan sinergi bersama PMI Jawa Timur, diharapkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami semakin meningkat sehingga risiko korban jiwa maupun dampak bencana dapat diminimalkan.
Dalam pertemuan tersebut terungkap sesungguhnya dirinya adalah Anggota PMR (Palang Merah Remaja) ketika masih remaja di Papua. Saya hafal 7 prinsip dasar Palang Metah dan Bulan Sabit Merah. Tanpa diminta Rico langsung menyebut 7 prinsip dasar dengan lancar. Pungkas Rico Kardoso, priq kelahiran Makasar dan besar di Papua.
(zal/min)







