SURABAYA, Wartatransparansi.com — Sabtu malam biasanya identik dengan jalan-jalan atau nongkrong di kafe. Namun suasana berbeda terlihat di Kantor DPD Partai Golkar Jawa Timur, Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Ratusan pasang mata justru tertuju ke layar besar yang menayangkan partai puncak Liga Champions UEFA 2026.
Sorak-sorai, tepuk tangan, hingga teriakan spontan pecah sepanjang pertandingan berlangsung. Bukan karena kampanye politik atau rapat partai, melainkan karena final yang mempertemukan PSG dan Arsenal berlangsung begitu menegangkan.
Malam itu, sepak bola menjadi bahasa yang menyatukan semua orang.
DPD Partai Golkar Jawa Timur menggelar nonton bareng (nobar) final Liga Champions bersama masyarakat. Pengurus partai dan warga duduk berdampingan menikmati pertandingan yang akhirnya dimenangkan PSG melalui drama adu penalti dengan skor 4-3 setelah kedua tim bermain imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu.
Di tengah riuhnya suasana, Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur Bidang Hukum dan HAM, Julianto P.H. Simanjuntak, tampak ikut larut dalam euforia pertandingan. Baginya, acara tersebut bukan sekadar menonton sepak bola.
“Ini menjadi ruang kebersamaan. Kami ingin hadir lebih dekat dengan masyarakat melalui kegiatan yang sederhana, tetapi punya makna,” ujarnya.
Menurut Julianto, sepak bola memiliki kekuatan yang unik. Olahraga ini mampu menghapus sekat usia, profesi, hingga latar belakang sosial. Semua larut dalam satu emosi yang sama ketika tim favorit mereka bertanding.
Antusiasme warga yang hadir malam itu menjadi bukti bahwa kebersamaan terkadang lahir dari hal-hal yang sederhana.
Menariknya, Julianto mengaku sudah memprediksi kemenangan PSG sejak awal laga. Alasannya bukan semata kualitas pemain, melainkan faktor mental bertanding.
“Final itu soal mental. PSG punya pengalaman dan mental juara yang kuat. Itu yang menjadi pembeda,” katanya.
Bahkan, ia mengaitkan filosofi pertandingan sepak bola dengan kehidupan organisasi dan politik. Menurutnya, kemampuan bertahan dalam tekanan dan tetap fokus pada tujuan merupakan modal penting untuk meraih kemenangan.
Sepanjang pertandingan, suasana semakin hangat. Ketika peluang tercipta, penonton serempak berdiri. Saat adu penalti berlangsung, ketegangan terasa di setiap sudut ruangan. Beberapa penonton tampak menahan napas, sementara yang lain tak henti-hentinya memberikan dukungan.
Namun di balik meriahnya acara, ada satu hal yang menjadi perhatian panitia.
Kopi yang disediakan ternyata lebih cepat habis dari perkiraan.
Alih-alih menjadi keluhan serius, hal tersebut justru menjadi penanda tingginya antusiasme masyarakat yang hadir. Julianto menyebut masukan itu akan menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan berikutnya.
“Tadi ada masukan soal kopi yang cepat habis. Ini jadi catatan buat kami supaya ke depan lebih siap lagi,” ujarnya sambil tersenyum.
Kesuksesan acara tersebut membuat Golkar Jawa Timur membuka peluang menggelar kegiatan serupa di masa mendatang. Bahkan, jika nanti ada agenda besar seperti Piala Dunia, konsep nobar akan dikemas lebih meriah dan lebih matang.
Bagi Golkar Jatim, malam itu bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi Liga Champions. Yang lebih penting adalah terciptanya ruang pertemuan yang hangat antara partai dan masyarakat.
Karena pada akhirnya, sebagaimana sebuah tim juara dibangun oleh kekompakan dan mental yang kuat, kedekatan dengan masyarakat juga lahir dari kebersamaan yang terus dirawat.
Dan malam itu, di tengah ketegangan adu penalti PSG kontra Arsenal, sebuah pelajaran sederhana kembali terbukti: kadang kedekatan tidak dibangun lewat pidato panjang, melainkan lewat secangkir kopi, layar besar, dan sorak gembira yang dinikmati bersama.
(min/min)






