KEDIRI – UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kediri menjajaki peluang kerja sama dengan pembeli domestik dan internasional melalui Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026. Keikutsertaan tujuh pelaku usaha dari wilayah Mataraman tersebut membuka peluang business matching dengan potensi nilai mencapai Rp2,5 miliar.
Asisten Direktur sekaligus Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Deasi Surya Andariina, menjelaskan bahwa partisipasi UMKM binaan dalam ISEF menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar dan memperkenalkan produk halal unggulan Mataraman ke pasar nasional maupun global.
“Keikutsertaan UMKM dalam ISEF membuka peluang untuk memperluas pasar produk unggulan Mataraman,” kata Deasi Surya Andariina, dalam tertulisnya, 16 Oktober 2026.
Selain memamerkan produk di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, para pelaku usaha mengikuti penjajakan bisnis, Forum Bisnis Pesantren, dan Silaturahim Pesantren. Kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi UMKM dan unit usaha pesantren untuk menjalin kerja sama dengan calon pembeli serta memperluas jaringan usaha.
Tujuh UMKM binaan KPwBI Kediri yang mengikuti ISEF 2026 adalah Arbilest Coffee, CV Temon Agro Lestari, CV Alsafood, CV Laksita, CV Nawasena Pangan Kreatif, PT Yuksri Prima Indonesia, dan UD Ibu Sam. Mereka menampilkan beragam produk, mulai dari makanan dan minuman halal hingga modest fashion, wastra, dan kerajinan.
ISEF ke-13 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 dengan mengusung tema akselerasi pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah berkelanjutan melalui sinergi dan transformasi digital.
BI Kediri Fasilitasi Lebih dari 90 UMKM
KPwBI Kediri telah memulai dukungan terhadap ISEF 2026 melalui rangkaian Semarak Ekonomi Syariah Wilayah Mataraman (SYIAR) sebagai bagian dari program Road to ISEF. Rangkaian tersebut berlanjut pada Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 yang berlangsung pada 25–27 September 2026.
Dalam kegiatan SYIAR, KPwBI Kediri memfasilitasi lebih dari 90 UMKM dan unit usaha pesantren dari wilayah Mataraman. Fasilitasi ini memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk mempromosikan produk sekaligus menjajaki peluang pengembangan bisnis dalam ekosistem ekonomi syariah.
Wilayah kerja KPwBI Kediri mencakup 13 kabupaten/kota dengan potensi komoditas unggulan, seperti kopi, gula aren, pangan olahan, dan wastra. Bank Indonesia Kediri mendorong pelaku usaha mengembangkan potensi tersebut melalui penguatan rantai nilai halal dan peningkatan daya saing produk.
Upaya itu dilakukan melalui pendampingan sertifikasi halal, peningkatan kualitas dan kemasan produk, penguatan kemandirian ekonomi pesantren, digitalisasi pembayaran menggunakan QRIS, serta fasilitasi akses pembiayaan syariah.
Berbagai langkah tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produk, memperluas jangkauan pemasaran, dan memanfaatkan peluang pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah.
ISEF Libatkan Lebih dari 1.000 Pelaku Industri Halal
Pada tingkat nasional, ISEF 2026 melibatkan lebih dari 1.000 pelaku industri halal dan menghadirkan lebih dari 100 kegiatan secara luring maupun daring. Rangkaian acara mempertemukan pelaku usaha dari hulu hingga hilir melalui business matching perdagangan dan wastra, Forum Bisnis Pesantren, serta forum nasional dan internasional yang membahas industri halal, zakat, wakaf, pembiayaan haji, dan pariwisata ramah muslim.
Penyelenggara juga memperluas jangkauan ISEF melalui kolaborasi dengan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, pemanfaatan teknologi digital imersif, serta peningkatan partisipasi lintas generasi dan negara.
Untuk menjangkau generasi muda, ISEF menghadirkan kompetisi Video Kreatif Ekonomi Syariah (VITRAH) dan ISEF World Island melalui platform Roblox. Kedua inisiatif tersebut memperkenalkan ekonomi dan keuangan syariah melalui media digital yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Dalam gelaran yang sama, Bank Indonesia meluncurkan tiga program unggulan. Pertama, Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC), pedoman transaksi pasar keuangan syariah untuk memperkuat integritas dan efisiensi pasar.
Kedua, pembaruan Indeks Penerapan Prinsip Utama Zakat 2.0 atau Zakat Core Principles (ZCP) yang menambahkan dimensi manajemen risiko guna memperkuat tata kelola zakat. Ketiga, program beasiswa internasional bagi mahasiswa asing yang memanfaatkan dana sosial syariah untuk mendukung pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Melalui ISEF 2026, Bank Indonesia mendorong penguatan ekosistem industri halal, pendalaman pasar keuangan syariah, optimalisasi keuangan sosial syariah, serta perluasan inklusi melalui transformasi digital. Bagi UMKM Mataraman, ajang ini menjadi kesempatan untuk memperluas jaringan bisnis dan menjajaki pasar yang lebih luas.(*)







