SURABAYA, Wartatransparansi.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya mengimbau masyarakat untuk tidak perlu panik terkait adanya sesar aktif. Pernyataan tersebut merespons identifikasi BMKG bahwa jalur sesar aktif di Jawa Timur melintasi kawasan Kota Surabaya, Bangkalan, dan Pasuruan dengan potensi magnitudo maksimum mencapai M6,7.
Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto mengatakan, sebenarnya sesar aktif ini memiliki garis panjang membentang dari barat hingga ke timur Pulau Jawa. Nah, di Jawa Timur disebut sebagai patahan atau sesar Kendeng. Sedangkan di Surabaya, sesar Kendeng terdapat dua segmen yakni Surabaya dan Waru.
“Masyarakat tidak perlu takut, bukan berarti adanya sesar tersebut bakal terjadi gempa sekarang atau sebentar lagi. Tapi, masyarakat tetap penting untuk mengetahui risikonya,” kata Irvan, Kamis (10/9/2026).
Untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, Irvan menyebutkan, Pemkot Surabaya melalui BPBD juga rutin melakukan sosialisasi dan edukasi kedaruratan. Hal tersebut rutin dilakukan di lingkungan padat penduduk, sekolah, hingga perkantoran di Kota Surabaya.
Tidak lupa, Irvan menyampaikan, yang paling penting dilakukan masyarakat adalah memastikan informasi soal gempa dan kebencanaan lainnya melalui sumber resmi, seperti dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta BPBD.
“Kita terus lakukan, setiap hari kita berjalan. Diminta atau tidak diminta, kita jalan untuk melakukan mitigasi,” sebutnya.
Terpisah, pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya, Stasiun Geofisika BMKG Kelas I Pasuruan, Rozikan mengatakan, sesar di Surabaya merupakan bukan patahan baru. Berdasarkan hasil pemutakhiran data geologi, geofisika, dan geodesi yang dipublikasikan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) di tahun 2017 dan 2024, patahan tersebut merupakan struktur geologi purba yang teridentifikasi kembali sebagai sesar aktif.
“Jadi bukan yang terbentuk baru. Kemudian di Surabaya ini ada beberapa ya, ada sesar Kendeng yaitu jalur patahan yang melintasi Kota Surabaya, ada segmen Surabaya dan Waru,” kata Rozikan saat ditemui di Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda.
Dia mengungkapkan, kedua segmen ini merupakan dari zona lipatan dan patahan Kendeng atau trust zone yang memanjang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Berdasarkan peta PuSGen tahun 2024, kekuatan segmen Surabaya mencapai 6,7 magnitudo, sedangkan Waru 6,8 magnitudo.
Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan, bahwa pergerakan masing-masing segmen ini berbeda setiap tahunnya. Segmen Surabaya mengalami pergerakan 0,5 milimeter, sedangkan Waru 1 milimeter per tahun.
“Efeknya apa kalau terjadi magnitudo maksimum? Guncangan bisa mencapai intensitas 6 hingga 8 MMI (Modified Mercalli Intensity). Skala ini dapat memicu kerusakan ringan hingga sedang pada bangunan tahan gempa. Serta kerusakan berat hingga roboh pada bangunan biasa atau tanpa struktur,” jelasnya.
Rozikan menerangkan, beberapa langkah yang perlu diantisipasi masyarakat ketika gempa terjadi, salah satunya yakni melakukan kroscek dan tidak mudah termakan isu hoax yang tidak jelas sumbernya.
“Tetap tenang, kemudian pahami prinsip seperti drop, cover, hold on, seperti menunduk, kemudian melindungi kepala, masuk ke kolong meja dan berpegangan di situ. Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah kenali akses evakuasi, di mana kita berada tentunya sudah ada rambu evakuasi, jalur evakuasi dan titik kumpul. Nah, kemudian lokasi titik kumpul itulah yang menjadi tujuan akhir dari kita apabila terjadi bencana,” jelasnya.
Sebelumnya, BMKG mengungkapkan, sejumlah sesar aktif di wilayah Jawa Timur dengan potensi magnitudo maksimum mencapai M6,7. Jalur sesar aktif tersebut, teridentifikasi melintasi kawasan Surabaya, Pasuruan, hingga Bangkalan dan menjadi bagian pemetaan sumber serta bahaya gempa Indonesia.
Pemetaan tersebut, diketahui, dilakukan Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen) dan telah diterbitkan pada 2024. Sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman mengenai sumber ancaman gempa.
Plh Deputi Geofisika sekaligus Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena menjelaskan, peta tersebut menunjukkan sejumlah jalur patahan yang perlu diperhatikan di Jawa Timur. Salah satunya, merupakan Sesar Java Back-arc Thrust Surabaya yang melewati wilayah Surabaya dan memiliki potensi magnitudo maksimum M6,7.
“Jalur patahan di Jawa Timur terlihat sebagai berikut. Terdapat sesar yang melewati wilayah Surabaya dengan nama Sesar Java Back-arc thrust Surabaya,” kata Ardhasena dalam keterangannya, di Jakarta, 9 September 2026.
Data tersebut, katanya, tidak dimaksudkan untuk menentukan kapan gempa akan terjadi. Melainkan, menjadi dasar ilmiah dalam mitigasi dan perencanaan pembangunan.
Pernyataan tersebut, menegaskan bahwa keberadaan sesar aktif merupakan informasi kebencanaan yang perlu dipahami masyarakat. Jadi, bukan untuk memberikan alasan untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat.
*Dua Jalur Sesar di Bangkalan*
Sementara di wilayah Bangkalan juga menjadi bagian dari pemetaan sumber gempa, karena terdapat dua jalur sesar yang teridentifikasi di kawasan tersebut. Kedua jalur tersebut yakni Sesar RMKS-Baliga dan Sesar RMKS-Somorkoneng.
Sesar RMKS-Baliga, memiliki potensi magnitudo maksimum M6,7, sedangkan Sesar RMKS-Somorkoneng memiliki potensi maksimum M6,5. “Keduanya memiliki potensi magnitudo maksimum M6,7 dan M6,5,” ucap Ardhasena.
Dengan demikian, beberapa jalur sesar yang berada di Jawa Timur memiliki potensi menghasilkan gempa dengan kekuatan cukup besar. Namun, besarnya potensi magnitudo tersebut tidak berarti gempa dengan kekuatan tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.
BMKG menekankan, informasi mengenai sesar aktif tidak dapat digunakan untuk memprediksi waktu terjadinya gempa bumi.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak langsung panik setelah mengetahui adanya sesar aktif di wilayah tempat tinggalnya. Informasi mengenai potensi gempa, diminta dipahami sebagai dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mengurangi risiko apabila bencana benar-benar terjadi. (fri)







