banner 400x130

OMC Jatim Berhasil, Enam Kabupaten Mulai Turun Hujan

SURABAYA — Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Kementerian Kehutanan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus membantu mengatasi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, OMC menjadi bagian dari upaya kolaboratif pemerintah dalam memperkuat mitigasi bencana, khususnya di wilayah yang memiliki risiko karhutla dan kekeringan.

“Alhamdulillah, pelaksanaan OMC menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan melalui perangkat Automatic Rain Gauge (ARG), hujan terpantau turun di 11 titik pada enam kabupaten yang menjadi wilayah sasaran prioritas,” ujar Khofifah di Surabaya, Senin (7/9/2026).

Enam kabupaten tersebut meliputi Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan. Hujan yang terpantau memiliki intensitas ringan hingga sedang.

Di Kabupaten Lumajang, hujan intensitas sedang tercatat di ARG Pronojiwo. Sementara hujan ringan terpantau di ARG Pasrujambe, Pasirian, dan Jokarto.

Di Banyuwangi, hujan ringan tercatat di ARG Lidjen Jambu dan Kalibaru. Hujan ringan juga terpantau di ARG Sitiarjo dan Dampit, Kabupaten Malang.

Sementara itu, hujan ringan masing-masing terpantau di ARG Rekayasa Panti, Kabupaten Jember, ARG Trenggalek, serta ARG Sudimoro, Kabupaten Pacitan.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Jawa Timur, OMC telah dilaksanakan sebanyak empat kali pada 3–6 September 2026. Dalam rangkaian operasi tersebut, sebanyak 3.200 kilogram bahan semai natrium klorida (NaCl) disebarkan.

OMC perdana dilaksanakan Kamis (3/9) menggunakan pesawat CASA NC212/A-2104 dengan sasaran Lumajang dan Probolinggo. Sebanyak 800 kilogram bahan semai NaCl disebarkan dalam operasi tersebut.

Operasi dilanjutkan Jumat (4/9) dengan sasaran Probolinggo-Lumajang, termasuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), wilayah di atas Kota Batu dan Gunung Arjuno, serta Malang.

Khofifah menjelaskan, pelaksanaan OMC bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial. Karena itu, pemantauan BMKG menjadi dasar penting dalam menentukan waktu serta wilayah sasaran operasi.

Menurutnya, OMC tidak menjadi satu-satunya langkah penanganan kekeringan dan karhutla. Pemerintah juga menjalankan distribusi air bersih, penyediaan tandon, optimalisasi sumber air, serta penguatan kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat.

Pemprov Jatim bersama Kementerian Kehutanan, BMKG, BPBD, dan unsur terkait juga memperkuat antisipasi potensi El Niño yang dapat meningkatkan risiko karhutla.

Penguatan dilakukan melalui sistem deteksi dan peringatan dini, pemetaan daerah rawan, peningkatan patroli dengan melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta kesiapsiagaan satuan tugas darat.

“Kolaborasi menjadi kunci karena penanganan karhutla dan kekeringan membutuhkan respons yang cepat, terpadu, dan berkelanjutan,” kata Khofifah.

Pelaksanaan OMC berikutnya akan dilakukan secara situasional berdasarkan potensi awan dan rekomendasi BMKG. Khofifah juga mengajak masyarakat menggunakan air secara bijak dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. (*)