SUMBA BARAT DAYA, WartaTransparansi.com – Pemerintah terus mendorong penguatan kapasitas masyarakat desa untuk memastikan akses air bersih tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi dapat dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) bersama Solar Chapter dan Wahana Visi Indonesia melalui kegiatan peningkatan kapasitas pengelolaan air berkelanjutan bertajuk Solar Champions: Water Committee di Desa Kalena Wano, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kegiatan yang berlangsung pada 5–7 Agustus 2026 itu diikuti 60 peserta dari 14 desa di Kabupaten Sumba Barat Daya. Peserta terdiri dari perempuan dan laki-laki berusia 20 hingga 60 tahun yang dipersiapkan menjadi penggerak pengelolaan sistem air bersih di desa masing-masing.
Direktur Penyerasian Pembangunan Sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal Kemendesa PDT, Teguh Hadi Sulistiono, menegaskan bahwa keberadaan infrastruktur air bersih harus diikuti komitmen masyarakat untuk merawat dan mengelolanya.
“Air itu berkat Tuhan, tetapi air harus kita jaga. Dan ini bergantung pada kuatnya komite air, keberfungsian sistem yang ada, serta bagaimana kita bisa meningkatkan pemanfaatan air,” ujar Teguh.
Menurut Teguh, keberadaan lembaga pengelola menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan fasilitas air bersih dapat berfungsi dalam jangka panjang.
Head of Program Solar Chapter, Sonya Teresa Debora, mengatakan persoalan kelembagaan menjadi salah satu penyebab banyak sistem air desa berhenti beroperasi.
Berdasarkan data Solar Chapter melalui Mengalir.co, terdapat sekitar 170 desa yang sistem airnya tidak beroperasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 73 persen lembaga pengelolanya diketahui telah berhenti beroperasi.
“Dari desa-desa itu, kita telisik lebih jauh dan ketahui bahwa 73 persen lembaganya berhenti beroperasi. Maka dari itu, kita bisa belajar bahwa komite air dan perannya menjadi sentral dalam keberlanjutan sistem air,” kata Sonya.
Program Solar Champions yang telah berjalan sejak 2025 tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pemuda desa dan profesional muda NTT dalam pengelolaan akses air bersih sekaligus pemanfaatan teknologi energi terbarukan.
Dalam pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai perlindungan sumber mata air, pengoperasian pompa air tenaga surya, pemeliharaan sistem, tata kelola air, hingga peluang pengembangan usaha setelah akses air tersedia.
Selain kemampuan teknis, peserta juga mendapat pembekalan mengenai kepemimpinan masyarakat, penguatan kelembagaan dan kolaborasi lintas sektor.
Pelatihan berlangsung melalui kombinasi pembelajaran teori dan praktik lapangan. Peserta juga mengikuti diskusi kelompok berdasarkan desa asal untuk mengidentifikasi persoalan serta potensi pengembangan sistem air bersih di wilayah masing-masing.
Pada hari terakhir, peserta menjalani evaluasi pemahaman dan menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL). Mereka juga menyepakati komitmen bersama untuk memastikan hasil pelatihan diterapkan dan dipantau di desa masing-masing.
Koordinator Program Wahana Visi Indonesia, Yohannes Tanaboleng, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur fisik saja tidak menjamin keberlangsungan layanan air bersih.
Menurutnya, sistem air membutuhkan keterlibatan dan komitmen seluruh pihak, terutama masyarakat yang menjadi pengelola langsung di tingkat desa.
Dukungan terhadap penguatan pengelolaan air juga disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sumba Barat Daya, Benyamin Kabba, S.E.
Ia meminta masyarakat bersama pemerintah dan seluruh mitra pembangunan menjaga fasilitas air bersih yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
“Air bersih adalah kebutuhan kita semua, sehingga kita harus jaga. Sarana air bersih yang sudah terbangun, baik oleh pemerintah maupun oleh teman-teman WVI dan Solar Chapter, baiknya kita jaga dengan sungguh-sungguh agar panjang manfaatnya untuk anak cucu kita,” ujar Benyamin.
Kegiatan ditutup dengan penandatanganan Dokumen Komitmen Bersama antara Kemendesa PDT, Pemkab Sumba Barat Daya, Solar Chapter, Wahana Visi Indonesia, perwakilan kepala desa, serta komite air dari 14 desa.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi lintas pihak dalam menjaga keberlanjutan fungsi dan tata kelola sarana air bersih di Sumba Barat Daya.
Pemerintah berharap penguatan kapasitas masyarakat dapat melahirkan lembaga pengelola air desa yang terampil dan mandiri, sehingga akses air bersih tidak hanya tersedia saat infrastruktur selesai dibangun, tetapi mampu bertahan dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga generasi mendatang.
(mat/mat)






