BONDOWOSO, Wartatransparansi.com – Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur terus memperkuat penyaluran bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Kabupaten Bondowoso. Selain melibatkan pemerintah daerah dan PMI setempat, distribusi kali ini juga didukung berbagai komunitas lintas agama dan lintas organisasi.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edi Purwinarto, meninjau langsung distribusi air bersih di Desa Purnama, Kecamatan Tegalampel, Rabu (15/7). Sehari sebelumnya, tim monitoring PMI Jatim juga memantau penyaluran air bersih di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember.
Di Bondowoso, Edi didampingi jajaran PMI Bondowoso, unsur Kecamatan Tegalampel, Sekretaris Desa Purnama Abdul Ghafur, serta perwakilan Paguyuban Umat Buddha.

Abdul Ghafur mengatakan, dua dusun di Desa Purnama, yakni Dusun Keramat dan Dusun Tugu, menjadi wilayah yang paling terdampak krisis air bersih setiap musim kemarau. Menurutnya, desa tersebut memiliki delapan dusun, namun baru empat dusun yang memiliki sumur bor bantuan pemerintah maupun milik warga.
“Idealnya setiap dusun memiliki dua sumur bor agar kebutuhan air masyarakat dapat terpenuhi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat musim kemarau debit sumber air sangat kecil sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan warga. Sebaliknya, ketika musim hujan, air berubah keruh dan berlumpur sehingga tidak layak dikonsumsi.
Dalam aksi kemanusiaan tersebut, sejumlah komunitas turut berpartisipasi. Hendra, anggota Paguyuban Vihara di Bondowoso, mengatakan pihaknya sengaja ikut ke lokasi distribusi agar mengetahui langsung kondisi masyarakat sekaligus membantu meringankan tugas PMI.
Pengurus PMI Bondowoso, Wahyudi, menambahkan dukungan juga datang dari umat Katolik Paroki serta komunitas alumni lintas sekolah angkatan 1976 yang bersama-sama membantu penyediaan air bersih.
Edi Purwinarto menegaskan PMI Jatim akan terus mendistribusikan air bersih selama musim kemarau dengan memperkuat koordinasi bersama pemerintah daerah, BPBD, PMI kabupaten/kota, serta berbagai elemen masyarakat.
Menurutnya, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat dampak El Niño. Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, sebanyak 29 daerah berpotensi mengalami kekeringan. Hingga pertengahan Juli 2026, sebanyak 11 daerah telah menetapkan status darurat kekeringan, sementara enam daerah aktif melaksanakan distribusi air bersih.
Di Bondowoso sendiri, status darurat kekeringan ditetapkan selama 90 hari sejak 14 April 2026. Sebanyak 13 desa terdampak kekeringan.
Hingga pertengahan Juli, PMI Bondowoso telah melakukan 31 kali distribusi air bersih dengan total sekitar 155.000 liter ke lima desa. Bantuan tersebut telah menjangkau 753 kepala keluarga atau 1.922 jiwa dengan mengerahkan tiga truk tangki air, terdiri atas satu unit bantuan PMI Jawa Timur dan dua unit sewaan dari PDAM.
Edi mengakui distribusi air bersih di Bondowoso menghadapi tantangan medan yang cukup berat karena sebagian besar lokasi berada di kawasan pegunungan dengan akses jalan menanjak dan rusak. Jarak sumber air yang cukup jauh juga membuat armada hanya mampu melakukan maksimal dua kali perjalanan setiap hari.
Berdasarkan hasil peninjauan, PMI Jatim menilai pembangunan jaringan pipanisasi dari sumber air ke permukiman warga serta penambahan sumur bor menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air bersih di wilayah tersebut. (*)


