Mojokerto, WartaTransparansi.com – Dinas Kesehatan-P2KP Kota Mojokerto gencar sosialisasi dan edukasi terkait Tuberkulosis (TBC) dengan target percepatan penemuan kasus sekaligus penanganan hingga tuntas dengan melibatkat RT/RW hingga kegiatan pengajian rutin lingkungan kota Mojokerto.
Langkah ini sebagai komitmen Pemkot Mojokerto mendukung sinergi aksi tuntaskan Tuberkulosis (TBC) dengan percepatan penemuan kasus sekaligus penanganan tuntas baik lokal, regional maupun nasional demi menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari penyakit menular.
Data Global TB Report dari World Health Organization (WHO) tahun 2025, estimasi kasus TBC mencapai 10,7 juta jiwa dengan kematian mencapai 1,23 juta kasus di tahun 2024. Ini menunjukkan bahwa tuberkulosis masih menjadi tantangan global yang memerlukan perhatian serius untuk segera ditangani demi menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari penyakit menular.
Kepala Dinas Kesehatan-P2KB Kota Mojokerto dr. Ahmad Rheza sp.OG dikofirmasi di kantornya, Kamis (16/4/2026) menyampaikan Pemkot Mojokerto melalui Dinas Kesehatan-P2KP telah menempuh berbagi terobosan guna memaksimalkan temuan dan penanganan tuntas kasus TBC di kota Mojokerto sekaligus mendukung aksi tuntaskan TBC baik lokal regional maupun secara nasional.
Dijelaskan Dinkes-P2KP telah melaksanakan gerak cepat tuntaskan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis di kota Mojokerto. Selain melakukan sosialisasi secara bergulir di 18 kelurahan yang menyebar di kota Mojokerto, edukasi secara person selalu dilakukan di tiap Puskesmas.
“Inovasi dan terobosan yang kami lakuan saat ini, dengan melakukan sosialisasi hingga merambah RT/RW sampai perkumpulan pengajian di lingkungan RW di kampung-kampung,” tegas dr. Ahmad Rheza
Masih penjelasan Kadinkes-P2KP untuk meyakinkan warga yang terindikasi TBC sampai keinginan berobat memang tidak mudah, karena banyak warga yang takut dan malu jika dirinya terindikasi TBC, untuk itu edukasi dan sosiali tidak menyasar secara massal dan seremonial saja, tetapi juga edukasi secara person agar warga tergerak untuk periksakan maupun skrining mandiri di tempat yang diinginkannya.
Edukasi yang disampaikan Tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Mojokerto diantaranya mengenai gejala, penularan, sampai tata cara pengobatan TBC.
Selain mendorong warga tergerak melakukan skrining mandiri di Puskesmas setempat, penanganan TBC di kota Mojokerto juga melibatkan kader TBC terlatih yang berperan dalam penemuan kasus, pelacakan kontak, serta pemantauan pengobatan pasien TBC di wilayah masing-masing.
“Dinas Kesehatan Kota Mojokerto mewujudkan aksi nyata eliminasi TB dalam kegiatan Pemeriksaan Kesehatan Bergerak, yakni pemeriksaan kesehatan gratis bisa dilakukan di Puskesmas sekitar domisili warga”pungkas dr. Ahmad Rheza.
Dikonfirmasi terpisah Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari mengapresiasi gerak cepat petugas Dinas Kesehatan-P2KP melakukan terobosan untuk aksi tuntaskan Tuberkulosis (TBC) dengan percepatan penemuan kasus disertai penanganan tuntas secara lokal, regional maupun nasional demi menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bebas dari penyakit menular.
Ning ita panggilan akrab Walikota Mojokerto menegaskan pentingnya sinergi seluruh pihak dalam mengeliminasi TBC, terutama di wilayah padat penduduk seperti di kota Mojokerto ini. Disisi lain pemkot Mojokerto juga secara berkala melakukan rapat koordinasi, mengingat pentingnya kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat.
“Sejak tahun 2025 lalu hingga saat ini, kita menguatkan sinergi lintas sektor, antara pemerintah, TNI-Polri, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Semua harus bergerak bersama untuk menekan angka penularan TBC di wilayah kita,” tutur Ning Ita, dikonfirmasi di Rumah Rakyat, Kamis (16/4/2026)..
Dijelaskan Kota Mojokerto telah memiliki Rencana Aksi Daerah Eliminasi TBC yang menjadi panduan gerak cepat lintas sektor. Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan sosial dan spiritual dalam mengajak masyarakat untuk patuh berobat.
“Obat TBC sudah tersedia gratis, tapi masih banyak warga yang enggan berobat. Kalau dibiarkan, bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga menularkan ke orang lain. Kalau sampai orang lain meninggal karena tertular, itu dosa. Maka kita perlu sosialisasi dengan bahasa yang menyentuh, baik secara kelompok maupun pendekatan person seperti yang dilakukan tim Dinkes-P2KP kota Mojokerto saat ini,” papar Ning Ita.
Walikota Mojokerto juga menegaskan agar para kader lebih gencar dalam edukasi penanggulangan TBC. Ia juga mengingatkan bahwa TBC dapat memicu kasus stunting, terutama pada balita yang tertular.
“Kalau anak kecil kena TBC, pasti stunting. Ini akan mempengaruhi kualitas generasi ke depan. Jadi penanggulangan TBC bukan hanya soal kesehatan, tapi juga masa depan bangsa,” Pungkas Walikota Mojokerto. (*)












