Oleh Dr Abdul Rouf M.Ag – Dosen Univ. Darul ULum Jombang
Alhamdulillah, kita patut berbahagia dilahirkan dan ditempatkan di Indonesia, yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam dengan baik. Musholla dan Masjid selalu berkumandang pada setiap menjelang sholat Fardlu, apalagi di bulan Ramadhan seperti saat ini.
Pada bulan Ramadhan seperti ini, kemeriahan menyambut, mengisi dan pasca ramadhan sangat terasa. Tradisi buka bersama, patrol menjelang sahur, tadarus al-Qur’an, membagi-bagi ta’jil menjelang berbuka puasa baik yang diserahkan ke Masjid dan Musholla atau dibagi-bagikan ditepi jalan raya kepada para pengendara motor dan mobil.
Pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, yaitu mulai malam 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan, ada tradisi qiyamullail berjama’ah setelah sholat tarawih. Tradisi ini dilakukan dalam rangka mengikuti hadits Rasulullah saw yang artinya : “Carilah malam lailatul qodar itu pada malam ganjil sepuluh terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhori).
Jama’ah masjid diajak bersama-sama untuk berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan malam yang penuh dengan kemulyaan. Sebagai Contoh, salah satu yang berada di Masjid Darussalam Kauman -Mojoduwur-Kecamatan Mojowarno-Kabupaten Jombang Jawa Timur.
Tradisi Qiyamullail di Masjid Darussalam Kauman sudah dilakukan sejak tahun 80an. Ketika Jam menunjukkan 01.00 salah seorang anggota ta’mir masjid sudah mengumumkan kepada para jama’ah yang ingin mengikuti sholat Qiyamullail agar menyiapkan diri dan segara hadir di Masjid, kegiatan akan dimulai jam 02.00. Sehingga para jama’ah mulai berdatangan, ada yang sendirian, atau bersama keluarga.
Ketika Jam menunjukkan pukul 02.00 Lampu Penerangan masjid tidak dinyalakan semuanya, lalu Imam sholat memberitahu kepada seluruh jama’ah yang hadir di Masjid tentang Sholat yang akan dilaksanakan secara berjama’ah : Sholat Tahajjud, Sholat Tasbih, Sholat taubat, Sholat Liqadha’ al-Hawaij (Sholat hajat) dan ditutup dengan Sujud Syukur dan doa.
Setelah kegiatan Qiyamullail berjama’ah selesai, para jama’ah dippersilahkan untuk melaksanakan I’tikaf atau kembali ke rumah masing-masing. Saat ini, Masjid ini menyiapkan makanan Sahur berupa Sepiring Nasi + lauk beserta air mineral.
Mengajak keluarga untuk menggapai lailatul Qadar
Ramadhan adalah bulan penuh barakoh, pada 10 hari terakhir merupakan hari-hari yang penuh dengan kesemangatan dan mesti dilakukan dengan segala macam usaha ( gass poll untuk mendapatkan keutamaannya) 10 hari terakhir terkumpul didalamnya keutamaan-keutamaan bulan ramadhan ; ada malam laaylatulqadar ( malam turunnya al-Qur’an dari lahu mahfudz ke baytul’izzah), terkumpulnya kasih sayang dan ampunan Allah swt dan terbebasnya manusia mukmin dari siksa api neraka.
Kanjeng Nabi Muhammad saw memberi contoh kepada kita semuanya, agar ketika mengerjakan amal sholeh, kebaikan-kebaikan tidak dilakukan sendiri, namun hendaknya mengajak keluarga ; suami mengajak istri, putra-putri dan keluarganya, mengajak jama’ah dan tetangga untuk bisa melaksanakan kegiatan qiyamullail.
Ada beberapa riwayat yang menceritakan tentang amalan-amalan Rasulullah saw untuk mendapatkan kemulyaan-kemulyaan di 10 akhir bulan Ramadhan :
Artinya: “Nabi Muhammad saw, ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan tiba, beliau tidak pernah membiarkan anggota keluarganya yang mampu untuk melakukan shalat malam (qiyamul lail) untuk meninggalkannya. Beliau selalu mengajak mereka untuk bangun dan shalat” (HR At-Tirmdizi).
Dalam penjelasannya Abi Dzar menggambarkan hal ini dengan jelas “Bahwasannya Rasulullah saw beserta keluarganya bangun (untuk beribadah) pada malam 23, 25, 27. Khususnya pada malam 29.”
Rasulullah juga mengencangkan ikat pinggang dalam arti menghindari tempat tidur, bertambah semangat beribadah, mengurangi hal-hal yang tidak bermanfaat, menghidupkan malam untuk kegiatan beribadah dan mengajak keluarganya untuk baerbuat baik ( I’tikaf, qiyamullail dan lainnya) pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Hal ini bersandar pada hadits : Dai Aisyah radhiyallahu ‘anha : Rasulullah saw ketika memasuki sepuluh terakhir malam Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan (beribadah) malam itu dan membangunkan keluarganya. ( HR Bukhari)
Marilah kita bersama-sama berusaha untuk meraih malam lailatulqadar bersama keluarga dengan menghidupkan malam sejak bakda berbuka puasa, sholat tarawih dan tadarus al-Qur’an, dilanjutkan dengan kegiatan yang lain dalam rangka mengisi malam-malam 10 terakhir bulan Ramadhan..
Janganlah kegiatan menyambut hari Raya Idhul Fitri mengalahkan kegiatan dipenghujung bulan Ramadhan 1447 H. (*)