KEDIRI (WartaTransparansi.com) – Sejumlah masyarakat tampak antusias mengantri di di depan halaman ruang Kilisuci Balaikota Kediri.Puluhan buruh rokok masih mengenakan seragam pabrik, dan lansia tampak menggenggam map berisi berkas.
Mereka menunggu hak yang sudah ditetapkan turun: Bantuan Langsung Tunai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (BLT DBHCHT).
Tahun ini, Pemerintah Kota Kediri menggelontorkan Rp8,2 miliar untuk lima kelompok rentan. Lebih dari 8.000 warga masuk daftar penerima, mulai buruh pabrik rokok, fakir miskin, anak yatim, lansia, hingga Orang Dengan Kecacatan Berat (ODKB).
Kepala Dinas Sosial Kota Kediri, Imam Muttakin, menyebut penyaluran ini menjadi tahap pertama sekaligus terakhir pada 2025.
“Untuk pada hari ini kita selenggarakan launching penyaluran BLT kepada masyarakat Kota Kediri, khususnya kepada buruh perokok, buruh pabrik rokok yang di Kota Kediri dan sekitarnya,” ujarnya, Selasa 9 Desember 2025.
Ia menegaskan buruh asal Kota Kediri tetap berhak menerima meski bekerja di luar daerah. “Meskipun buruh itu bekerja di Tulungagung, Blitar, Trenggalek, asalkan KTP Kota Kediri pasti menerima,” katanya.
Sebanyak 4.600 buruh mendapatkan BLT Rp1 juta per orang. Sementara empat kategori rentan lainnya menerima bantuan dengan nilai beragam: fakir miskin Rp1,2 juta untuk 1.594 penerima; anak yatim Rp600 ribu untuk 1.291 penerima; lansia Rp1,2 juta untuk 491 penerima; dan ODKB Rp6 juta untuk 55 penerima.
Imam mengingatkan penggunaan dana harus tepat. “Jangan dipakai judol, jangan dipakai pinjol, jangan dipakai yang lain-lainnya,” tegasnya. Ia berharap bantuan ini mampu “meningkatkan taraf perekonomian” warga hingga tahun 2026.
Di Titik Paling Genting, Seorang Ibu Mendapat Kabar yang Menyelamatkan
Di tengah antrean panjang, kisah paling menyentuh datang dari Wimi Nurul Laili, 54 tahun, warga Balowerti. Ia datang tergesa-gesa, masih menarik napas setelah berlari dari rumah. Undangan baru ia terima pukul 07.50 WIB, hanya beberapa menit sebelum pembagian dimulai.
“Alhamdulillah sujud syukur ya Allah. Senang sekali tadi saya dapat undangan jam 7 kurang 10 menit. Jadi mandinya cepat-cepat langsung lari ke sini,” ucapnya, matanya berkaca-kaca.
Wimi menanggung tiga anak yang masih bersekolah, dari MTs hingga perguruan tinggi. Yang paling ia cemaskan adalah biaya Kuliah Kerja Nyata (KKN) anaknya di Universitas Nusantara PGRI, sebesar Rp700 ribu, yang harus dibayar pada 22 Desember.
“Anaknya kan masih sekolah, ada yang di SMP, di SMA, dan kuliah. Jadi, untuk anak-anak sekolah ini [bansosnya],” tuturnya.
Kalimatnya berikutnya membuat beberapa petugas terdiam.
“Maaf ya, rakyat kecil seperti saya yang apa ya, bukan tulang punggung, ya bukan tulang rusuk, tapi tulang belulang, jadi mendapat bantuan bersyukur.”
Sebelumnya, Wimi bahkan sudah mendatangi Kantor Kelurahan untuk memohon dimasukkan dalam daftar penerima.
“Saya mohon didaftarkan karena masih banyak tunggakan untuk anak-anak sekolah,” kenangnya.
Ia menutup kisahnya perlahan, seolah melepaskan beban yang lama dipikul sebagai sosok ibu rumah tangga.
“Matur nuwun sanget, Bu Wali, matur nuwun sanget sedanten nggih, ya Allah.”
Buruh Rokok Membawa Harapan dalam Map Tipis
Di lokasi yang sama , buruh pabrik rokok berdiri berdesakan menunggu giliran. Beberapa terlihat lelah seusai shift malam, tetapi mata mereka berbinar saat nama dipanggil. Bantuan itu menjadi ruang bernapas di tengah tekanan biaya hidup.
Salah satunya Sindi, warga Ngadirejo, bekerja dua tahun sebagai buruh rokok. Ia menerima Rp1 juta tanpa banyak kata.
“Ya, Alhamdulillah senang, akan saya gunakan untuk menabung” ujarnya singkat sambil tersenyum kecil.
Informasi pembagian BLT ia terima dari pabrik. Jalur komunikasi utama bagi ribuan buruh yang jarang sempat mengurus administrasi sendiri karena ritme kerja harian.
Ruang Bernapas di Tengah Tahun yang Berat
Penyaluran BLT dan bantuan sosial akhir tahun ini menjadi penopang penting bagi warga yang hidup dalam tekanan ekonomi. Bagi Wimi, uang itu menyelamatkan masa depan pendidikan anaknya. Bagi buruh seperti Sindi, dana itu menjadi cadangan untuk kebutuhan rumah tangga.
Di luar angka dan tabel penerima, bantuan ini menyentuh rumah-rumah kecil yang selama ini bertahan dengan daya yang kian menipis. Antrean panjang para buruh, map usang yang dibawa warga lanjut usia, hingga ucapan syukur lirih para orang tua, menjadi potret bahwa bantuan ini datang tepat ketika mereka membutuhkannya.
Di penghujung 2025, bantuan itu memberi ruang bernapas, meski sebentar, dan harapan bahwa mereka masih mampu melangkah menghadapi tahun berikutnya. (*)





