BLITAR – Anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), KH. An’im Falachuddin Mahrus atau yang akrab disapa Gus An’im, menyerap aspirasi masyarakat melalui kegiatan Ngopi di Pondok Pesantren Sirojut Tholibin, Desa Bacem, Kecamatan Sutojayan (Lodoyo), Kabupaten Blitar, Selasa (21/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog untuk menggali pandangan masyarakat, khususnya kalangan pesantren, terkait tantangan dan masa depan pendidikan nasional. Aspirasi yang dihimpun diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam mendorong kebijakan pendidikan yang lebih baik, berkualitas, dan berkeadilan.
Dalam kesempatan itu, Gus An’im menyoroti pentingnya evaluasi terhadap sistem pendidikan Indonesia. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan data yang diketahuinya, posisi pendidikan Indonesia berada di atas Malaysia dan Vietnam. Namun, ia juga menyinggung adanya persoalan penurunan kualitas pendidikan yang perlu mendapat perhatian serius.
Menurutnya, pembenahan pendidikan tidak cukup dilakukan melalui perubahan teknis, tetapi membutuhkan penataan sistem secara menyeluruh. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penyusunan Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas).
RUU tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperbaiki arah kebijakan pendidikan nasional, sekaligus menjawab berbagai persoalan yang selama ini dihadapi dunia pendidikan, termasuk bagaimana menempatkan pendidikan agama dan pesantren dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Gus An’im menegaskan, pendidikan agama tidak semestinya dipandang sebagai penghambat kemajuan. Sebaliknya, pendidikan agama memiliki peran mendasar dalam membentuk karakter, moral, dan kepribadian generasi muda.
“Betapa pentingnya pendidikan agama, karena agama adalah pondasi,” tegasnya.
Ia mengingatkan, di tengah perkembangan sistem pendidikan yang semakin dipengaruhi orientasi sekuler dan kapitalistik, nilai-nilai keagamaan perlu tetap mendapat ruang yang proporsional. Kemajuan pendidikan, menurutnya, tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari keberhasilan membentuk generasi yang berintegritas dan memiliki tanggung jawab sosial.
Gus An’im juga menyoroti keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama sebagai langkah penting dalam memberikan perhatian terhadap pendidikan pesantren.
Menurutnya, pesantren memiliki kontribusi besar bagi perjalanan Republik Indonesia, baik dalam perjuangan kemerdekaan maupun dalam membangun kehidupan masyarakat.
Melalui kegiatan serap aspirasi tersebut, Gus An’im berharap masukan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kebijakan pendidikan nasional. Ia menekankan bahwa pembaruan sistem pendidikan harus berjalan seiring dengan penguatan pendidikan agama agar kemajuan bangsa tidak kehilangan pijakan moral dan karakter. (*)







