banner 400x130

CLC Singapura Soroti Tiga Sektor RTRW Surabaya

Taman Suroboyo di Jalan Pantai Kenjeran, Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya.

SURABAYA – Delegasi Centre for Liveable Cities (CLC) Singapura menyoroti tiga sektor unggulan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya 2025–2045, yakni pengolahan air baku, pengelolaan sampah, dan penyediaan ruang terbuka hijau (RTH). Ketertarikan tersebut mengemuka dalam diskusi bersama Pemkot Surabaya pada Senin (12/10) lalu untuk bertukar informasi mengenai perencanaan dan penataan kota selama 20 tahun ke depan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu mengatakan, delegasi CLC Singapura berdiskusi langsung mengenai sejumlah rencana pengembangan kota, termasuk pemenuhan kebutuhan air bersih dan pengolahan air limbah hingga 2045.

“Mereka tertarik pada perencanaan pemenuhan air baku untuk Kota Surabaya. Waktu pertemuan itu mereka juga menanyakan bagaimana rencana Kota Surabaya untuk mengelola kebutuhan air bersih di tahun 2045 dan juga rencana pengolahan air limbah sampai dengan tahun 2045,” kata Maria, dikutip Kamis (15/10/2026).

Selain sektor air, delegasi Singapura menaruh perhatian pada penyediaan RTH di Surabaya. Menurut Maria, CLC menilai luas RTH Surabaya sudah berada di atas rata-rata kota lain di Indonesia.

Sebanyak 20 delegasi Singapura juga diajak meninjau langsung sejumlah lokasi, di antaranya Kebun Raya Mangrove (KRM), Taman Harmoni, dan Bank Sampah Induk di kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pertukaran informasi mengenai pengelolaan lingkungan dan penataan ruang kota.

“Jadi yang mereka sorot di Kota Surabaya ini, selain air bersih tadi, yakni penyediaan ruang terbuka hijau dan pengelolaan sampah. Sampai hari ini kan kita juga memiliki 12 TPS 3R (reduce, reuse, recycle),” terangnya.

Dalam diskusi tersebut, Pemkot Surabaya juga membahas pengolahan sampah dan penataan permukiman layak huni. Maria menilai pengalaman Singapura dalam kedua sektor tersebut dapat menjadi referensi bagi Surabaya untuk mengembangkan pengelolaan perkotaan yang lebih baik.

Saat ini, Surabaya memiliki satu fasilitas incinerator pengolahan sampah di Benowo. Pemkot Surabaya berencana membangun satu fasilitas serupa di kawasan Surabaya barat untuk mendukung pengolahan sampah. Selain itu, penataan permukiman yang belum memenuhi standar kelayakan masih menjadi tantangan bagi pemerintah kota.

Maria menjelaskan, kondisi permukiman dengan jalan sempit, saluran tersumbat, dan keterbatasan mobilitas membutuhkan penanganan serta perencanaan yang tepat. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan ialah pembangunan permukiman bertingkat di kawasan prioritas.

“Kalau kita ingin menjadikan kota ini lebih terstruktur, layak huni lagi, permukiman-permukiman prioritas yang belum layak dan sesuai standarnya ya harus dipikirkan ke depannya. Mungkin ada opsi nantinya kita bikin bertingkat, karena sulit ya kalau menata jalan yang sempit, salurannya sudah tersumbat, mobilitasnya itu susah, tantangannya di situ,” tuturnya.

Melalui diskusi tersebut, Pemkot Surabaya berharap dapat mempelajari praktik perencanaan kota yang berhasil diterapkan di Singapura untuk menjadi acuan pengembangan Surabaya. Pertukaran pengetahuan itu diharapkan mendukung penataan kota yang lebih terstruktur, ramah lingkungan, dan layak huni sesuai arah RTRW 2025–2045. (fri)

Editor: Wetly