banner 400x130

Mentan Amran Paparkan Strategi Ketahanan Pangan dalam Sidang Paripurna DPRD Jatim

SURABAYA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memaparkan capaian dan strategi penguatan ketahanan pangan nasional dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Jawa Timur, Senin (12/10/2026).

Dalam rangka Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, Amran menegaskan pentingnya reformasi regulasi, modernisasi pertanian, dan hilirisasi komoditas untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Amran mengapresiasi kontribusi Jawa Timur sebagai salah satu penopang utama produksi pangan nasional. Menurutnya, produksi padi Jatim mencapai sekitar 6 juta ton, disertai kontribusi besar dari komoditas jagung, ayam, dan gula.

Sebagai bentuk dukungan, Kementerian Pertanian mengalokasikan bantuan pertanian sekitar Rp3 triliun untuk periode 2025–2026. Pemerintah juga menyiapkan tambahan Rp600 miliar untuk pembangunan fasilitas penyimpanan dan pengeringan hasil pertanian guna memperkuat pasokan panga

Selain itu, pemerintah merencanakan pembangunan pabrik pengolahan telur ayam menjadi tepung untuk mengurangi ketergantungan impor, dengan Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Tengah sebagai daerah penopang

Amran menjelaskan, penyederhanaan tata niaga pupuk telah memangkas kerumitan regulasi yang sebelumnya melibatkan 184 aturan. Kebijakan tersebut, menurutnya, turut mendorong penurunan harga pupuk hingga 20 persen tanpa tambahan alokasi APBN.

Pemerintah juga berupaya memperluas keberpihakan kepada petani kecil dan buruh tani, termasuk pekerja yang selama ini belum tersentuh bantuan formal.

Dalam kesempatan tersebut, Amran memperkenalkan metode pertanian modern Advanced Agriculture System (PM-AAS). Berdasarkan hasil uji coba yang disampaikan, metode ini meningkatkan populasi tanaman dari 360 ribu menjadi 800 ribu per hektare, dengan hasil panen mencapai 12–13 ton per hektare di sejumlah lokasi.

Pemerintah berencana mengalokasikan anggaran Rp2 triliun hingga Rp3 triliun untuk penyediaan benih gratis bagi daerah yang siap menerapkan metode tersebut.

Amran turut menyoroti disparitas harga komoditas peternakan dan beras di tingkat produsen maupun konsumen. Pemerintah, katanya, telah menyurati Kapolri untuk menindak spekulan yang merugikan petani, peternak, dan masyarakat.

Di sektor hilirisasi, pemerintah mendorong pengembangan kelapa, sawit, kakao, dan gambir untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. Program peremajaan tebu di Jawa Timur juga dilanjutkan secara bertahap hingga 2028 guna mendukung swasembada gula nasional.

Amran optimistis, melalui sinergi pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, Indonesia dapat mempercepat pencapaian kemandirian pangan sekaligus memperkuat posisinya sebagai kekuatan ekonomi dunia. (*)

Editor: Amin