JAKARTA — Pengalaman puluhan tahun menekuni taekwondo mendorong Ade Fitra Jaya untuk mengajak generasi muda mengenal olahraga bela diri tersebut sejak usia dini. Menurutnya, taekwondo bukan hanya dapat diarahkan untuk prestasi, tetapi juga membantu perkembangan kemampuan motorik anak.
Pesan tersebut disampaikan Ade saat tampil dalam Poomsae Master pada Taekwondo Challenge yang menjadi bagian dari Indonesia Sport Summit 2026. Ade merupakan satu dari sembilan master yang tampil dalam eksibisi tersebut.
Ade, yang lahir pada 1971, tampil mewakili Revolution Taekwondo Club (RTC) Jakarta. Keikutsertaannya kali ini menjadi pengalaman pertamanya tampil dalam Poomsae Master di ajang Indonesia Sport Summit.
Bagi Ade, tampil bersama para master bukan sekadar menunjukkan kemampuan. Ia ingin kehadiran para senior dapat menjadi contoh bagi junior maupun peserta yang baru mulai mempelajari taekwondo.
“Saya ingin menjadi leader by example untuk junior-junior dan pemula-pemula,” ujar Ade.
Ade telah menekuni taekwondo sejak 1985. Selama lebih dari empat dekade, ia melihat olahraga tersebut dapat dipelajari oleh berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak yang baru mengenal dunia olahraga bela diri.
Menurutnya, pengenalan taekwondo sejak usia dini memiliki manfaat penting dalam membantu perkembangan motorik anak. Latihan dasar dapat membangun koordinasi gerak sekaligus membantu anak memiliki pijakan kaki yang lebih kuat.
“Untuk usia dini juga penting. Motorik anak bisa dilatih, terutama supaya tatakan kakinya kuat. Nanti bisa diarahkan untuk prestasi ataupun sekadar pembelajaran taekwondo,” katanya.
Taekwondo Challenge sendiri tidak hanya menghadirkan Poomsae Master. Kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi peserta pemula, termasuk anak-anak usia dini, untuk mengenal dan mempraktikkan taekwondo.
Ade menilai kesempatan tersebut penting karena anak dapat mengenal olahraga secara bertahap tanpa harus langsung diarahkan pada kompetisi. Setelah dasar kemampuan dan minat terbentuk, mereka dapat memilih untuk mengembangkan diri menuju jalur prestasi.
Sebaliknya, bagi anak yang tidak berorientasi pada kompetisi, taekwondo tetap dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran dan aktivitas olahraga.
Ade berharap kehadiran Poomsae Master dan kategori pemula dalam Taekwondo Challenge dapat semakin memperkenalkan taekwondo kepada masyarakat. Ia juga mendorong agar semakin banyak anak mendapatkan kesempatan mengenal olahraga tersebut sejak dini.
Dengan pengalaman yang dimilikinya, Ade ingin para master tidak hanya tampil sebagai peserta eksibisi, tetapi juga menjadi teladan bagi generasi penerus taekwondo di Indonesia. (*)







