Oleh: Samiadji Makin Rahmat
USAI pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadan 1447 sebulan penuh, mulai memasuki bulan Syawal, dengan genderang pertanda pada Salat Idul Fitri 1 Syawal.
Kemenangan yang kita raih, tentu dengan dasar iman dan Islam hingga memperoleh predikat takwa. Tentu, keberuntungan tersebut menjadi tantangan dalam mewujudkan diri sebagai Khalifah fil Ardli. Tanpa sadar kita sering abai, terkadang kita tergerak berbuat baik kepada orang lain, namun membiarkan prilaku buruk terhadap orang di sekitar kita, terutama orangtua.
Kembali ke bulan Syawal sebagai bulan ke-10 Hijriyah yang bermakna peningkatan (dari kata syala), yaitu peningkatan amal ibadah, iman, dan akhlak setelah digembleng selama Ramadan.
Filosofi utamanya adalah menjadi pribadi yang kembali suci (fitrah), konsisten dalam kebaikan, mempererat silaturahmi, serta momen memaafkan dan berbagi rezeki, serta meningkatkan kualitas Istiqomah ketakwaan kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan mampu menebarkan aroma kemaslahatan, yaitu Hablum minallah wa Hablum minannas.
Lantas bagaimana sikap dan tindakan kita agar amalan Ramadan bisa digejawantakan di 11 bulan berikutnya? Tentu euforia Syawal bukan sekedar membatalkan atau diharamkan puasa di Yaumil Id. Ada konsideran dan literasi guna memahami benih pohon yang kita tanam di bulan Ramadan bisa tumbuh, berbuah ranum dan memanen untuk dibagikan dan dinikmati sehingga menjadi pribadi yang lebih baik dan peduli terhadap sesama.
Ada kisah, seorang waliyullah, sufi, ahli ibadah ternyata tercatat di lauhil Mahfud sebagai penghuni neraka. Tentu penduduk langit menjadi geger, terutama para malaikat.
Mengapa ketekunan, kesungguhan dan keikhlasan pria yang bernama Syech Abdul Aziz Ad-Dhabag dalam beribadah membuat salah satu malaikat turun ke bumi, menanyakan perihal catatan di Lauhil Mahfud.
“He… Abdul Aziz Ad-Dhabag mengapa anda serius dan tekun beribadah, padahal dirimu tercatat sebagai penghuni neraka?”
Apa jawaban Syech Abdul Aziz Ad-Dhabag, “Soal surga dan neraka itu bukan menjadi kewenangan saya. Itu menjadi hak prerogatif Allah SWT. Yang penting, saya ikhlas beribadah. Karena jin dan manusia diciptakan untuk beribadah,” ucapnya.
Jawaban tulus Waliyullah ini menjadi viral di penduduk langit, sampai akhirnya malaikat mendapatkan kabar update alias gres, kalau buku takdir Abdul Aziz Ad-Dhabag sudah berubah, menjadi penghuni surga.
Maka segera malaikat kembali menemui Abdul Aziz Ad-Dhabag, sambil berujar; “Ada kabar gembira ya Syech, ternyata catatan di Lauhil Mahfud sudah berubah, dirimu sekarang menjadi penduduk surga.”
Ternyata kabar ini tidak membuat Abdul Aziz Ad-Dhabag salah tingkah terlarut dalam kegembiraan. “Sekali lagi, urusan surga dan neraka itu bukan menjadi kewenangan saya. Kalau Allah ridlo saya di neraka, maka itu merupakan terbaik bagi saya. Hal sebaliknya juga demikian,” katanya, sambil menanyakan mengapa dirinya tercatat sebagai penghuni neraka.
Malaikat akhirnya menjelaskan, saat Abdul Aziz Ad-Dhabag usia 15 tahun, ibundanya mendatangi kamarnya, ternyata Abdul Aziz Ad-Dhabag yang mendengar langkah tapak kaki ibunya bukan bangun pura-pura tidur. Melihat anaknya masih terlelap, maka rencana meminta tolong untuk belanja ke pasar dibatalkan.
Ternyata rasa kasihan dan iba seorang kasih sayang ibu yang dikelabui oleh anaknya, membuat Allah Azza wajalla Murka.
Dari penjelasan tersebut, Abdul Aziz Ad-Dhabag memutuskan untuk tidak berceramah, bertablik. Secara khusus dirinya selalu memohon ampun terus membaca istighfar kepada Allah SWT dan memohon maaf kepada ibunya. Hal itu selalu dilakukan saat ketemu tamu atau santrinya.
Pertanyaan sederhana bagaimana dengan kita yang hidup di zaman modern, generasi Z, yang sering mementingkan gadget daripada membantu atau patuh pada perintah orangtua.
Sebetulnya, salah satu solusi untuk tidak terbawa arus adalah Istiqomah dalam beribadah. Apalagi, puasa adalah ibadah istimewa bagi umat Baginda Rasulullah SAW. Sebagaimana dalam hadits qutsi, firman Allah SWT, “Tiap amal anak cucu Adam kembali kepadanya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.
Jadi, konsisten terhadap ridlo Allah SWT merupakan harga mati, sehingga amaliyah mahdlo dan ghoiro mahdlo dalam memperoleh Rahmat dan maghfirah Allah SWT. Termasuk memburu ridlo ibu dan orang tua.
Salah satu opsi, yaitu tuntunan dalam QS Ali Imron ayat 132-134, yaitu taat kepada Allah dan Rasulullah supaya dijadikan hamba yang beruntung.
Berikutnya, guna mendapatkan Rahmat dan hamba yang beruntung, yaitu segera memohon ampunan kepada Allah SWT yang disediakan surga yang luasnya bumi dan langit.
Tidak cukup hanya itu, yaitu tuntunan untuk menginfaqkan dalam keadaan lapang dan sempit, mampu mengendalikan diri dan memiliki jiwa pemaaf. Dan, menjadikan manusia yang bermanfaat bagi umat serta selalu berusaha berbuat baik.
Sekali lagi yang tak kalah penting, adalah memburu Ridlo Orangtua. Jangan sampai mereka murka, sehingga kita menjadi celaka. Semoga sebelas bulan berikutnya terus memacu kita untuk selalu sabar dan bersyukur. Minal Aidin wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin. (*)
*) Ketua Forum Pimred SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) Jawa Timur