SINGKAWANG – Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengajak pemerintah kota se-Indonesia membangun kota modern tanpa melupakan akar budaya. Ajakan tersebut disampaikan dalam Forum “Rembuk Kebudayaan Kota Kita” yang digelar APEKSI di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (16/10), untuk mendorong pembangunan perkotaan yang tetap menjaga identitas daerah.
Eri menegaskan, modernisasi kota tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur, seperti jalan, bangunan, dan fasilitas fisik lainnya. Pelestarian budaya lokal harus menjadi bagian dari pembangunan agar kemajuan kota tidak menghilangkan karakter dan sejarah daerah.
“Kami ingin sampaikan bahwa kami di setiap kota yang ada di APEKSI, modernisasi kami itu bukan hanya memperkuat identitas dari segi beton, aspal dan bangunan tinggi, tapi kami ingin membalut kota kami dengan budaya,” kata Eri.
Menurutnya, kebudayaan berperan penting dalam membentuk karakter kota sekaligus memperkuat persatuan bangsa. Pemerintah kota perlu menempatkan budaya sebagai salah satu unsur utama dalam perencanaan pembangunan agar perkembangan zaman tetap berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai lokal.
“Kota yang hebat dan kota yang modern adalah kota yang bukan melupakan budayanya,” imbuhnya.
Eri meyakini, pelestarian budaya dapat menjadi kekuatan untuk mendorong pembangunan kota yang berkarakter dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan menjaga sejarah serta nilai-nilai lokal, kota dapat berkembang tanpa kehilangan jati dirinya.
“Ketika budaya ini menjadi satu kekuatan besar, maka insyaallah kota itu akan tumbuh tapi tidak akan pernah melupakan sejarahnya. Maka di situlah kota itu akan menjadi kota yang kuat. Dan saya yakin dengan budayalah kota ini akan semakin sejahtera,” katanya.
Ia menambahkan, menjaga dan mempromosikan warisan budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi tersebut diperlukan agar kekayaan budaya tetap terpelihara dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Karena budaya adalah jiwa utama dalam membangun karakter kota,” tuturnya.
Selain menyoroti kebudayaan, Eri mengajak seluruh wali kota anggota APEKSI memperkuat solidaritas dan kepedulian antardaerah. Menurutnya, kebersamaan menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Hari ini ketika kita diuji Tuhan dengan Karhutla, maka seyogyanya seluruh wali kota yang ada di Indonesia bersatu padu menguatkan saudara-saudara kita. Kita masih teringat ketika ada bencana di Aceh bagaimana APEKSI ini menjadi satu kekuatan menguatkan sahabat-sahabat kita,” pesannya.
Eri juga menekankan pentingnya pertukaran pengalaman dan keunggulan antarkota. Melalui APEKSI, pemerintah kota dapat saling belajar serta mengadopsi praktik baik sesuai kebutuhan dan karakteristik daerah masing-masing.
“Kami tidak bisa berdiri sendiri, karena apa yang ada di kelebihan di Kota Singkawang pasti akan diambil oleh Aceh. Apa yang ada kelebihan di Jayapura pasti kami ambil di Surabaya. Apa yang ada di Surabaya akan ambil Salatiga,” ujarnya.
Menurut Eri, keberhasilan APEKSI tidak diukur dari kemampuan suatu kota menjadi yang terbaik, tetapi dari kemauan setiap daerah berbagi keunggulan dan saling mendukung. Kolaborasi tersebut diharapkan membuat seluruh kota berkembang melalui pembelajaran bersama.
“Karena buat kami kesempurnaan wali kota-wali kota itu adalah ketika kota yang memiliki kelebihan, bisa memberikan kelebihan itu kepada kota-kota yang lainnya,” tegasnya.
Eri berharap solidaritas dan kolaborasi antarkota melalui APEKSI terus diperkuat untuk mendorong pembangunan yang berkarakter, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
“Karena APEKSI hadir untuk kota bukan siapa yang terbaik di antara kita, tetapi bagaimana kita maju bersama dan bagaimana APEKSI bisa membawa kota-kota ini menjadi kota yang lebih baik untuk masyarakatnya masing-masing,” tandasnya. (fri)







