banner 400x130

Ternyata Masih Ada Sekolah di Surabaya Muridnya Belajar Lesehan

Wali Kota Eri saat meninjau SDN Semolowaru IV Surabaya.

SURABAYA – SDN Semolowaru IV Kota Surabaya menghadapi keterbatasan ruang kelas dan sarana belajar. Dari total 12 rombongan belajar (rombel), sekolah tersebut hanya memiliki delapan ruang kelas. Akibatnya, empat rombel harus mengikuti kegiatan belajar mengajar pada siang hari. Sementara itu, sebagian siswa terpaksa belajar di perpustakaan dengan duduk lesehan karena tidak tersedia bangku.

Kondisi tersebut diketahui Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat meninjau SDN Semolowaru IV pada Rabu (7/10/2026) lalu, setelah menerima laporan warga melalui hotline mengenai siswa yang terpaksa belajar di luar ruang kelas akibat keterbatasan fasilitas.

“Saya datang ke SDN Semolowaru IV untuk mengecek langsung terkait bangku dan fasilitas sekolah. Ternyata, di sini terdapat 12 rombongan belajar, tetapi ruang kelas yang tersedia hanya delapan. Akibatnya, ada empat rombel yang harus masuk siang,” ujar Wali Kota Eri, dikutip Senin (12/10/2026).

Selain keterbatasan ruang kelas, Wali Kota Eri mendapati perpustakaan yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar tidak dilengkapi bangku. Kondisi bangku dan kursi siswa yang sebagian masih terbuat dari kayu dan berlubang juga menjadi perhatian.

“Karena tidak ada ruang kelas, kegiatan belajar mengajar dilakukan di perpustakaan. Di perpustakaan juga tidak tersedia bangku, sehingga para siswa harus belajar dengan duduk lesehan,” katanya.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Wali Kota Eri meminta Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya mengevaluasi kebutuhan sarana dan prasarana (sarpras) di sekolah negeri. Ia juga menekankan pentingnya memprioritaskan anggaran untuk memenuhi kebutuhan dasar pendidikan, seperti ruang kelas dan kamar mandi.

“Daripada mengadakan berbagai kegiatan yang membebani wali murid, lebih baik anggaran diprioritaskan untuk membenahi sarana dan prasarana terlebih dahulu, seperti ruang kelas dan kamar mandi,” tegasnya.

Menurut dia, ketersediaan fasilitas pendidikan yang memadai penting untuk menunjang kenyamanan belajar sekaligus mendukung prestasi siswa. Karena itu, ia meminta agar kebutuhan sekolah menjadi perhatian dalam upaya pembenahan fasilitas pendidikan di Surabaya.

“Saya minta maaf karena masih ada gedung pendidikan negeri di Surabaya yang kondisinya seperti ini, padahal berada di bawah naungan Pemerintah Kota Surabaya. Fasilitas ini akan berpengaruh terhadap prestasi anak-anak. Ini anak-anak Surabaya, prestasinya harus bagus,” tuturnya.

Wali Kota Eri pun menargetkan pembenahan seluruh SD dan SMP negeri di Surabaya pada 2027. Perbaikan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas sarpras sehingga kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih nyaman.

“Insya Allah pada 2027, semua sekolah negeri, baik SD maupun SMP, akan saya benahi. Jadi, anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan prestasinya juga bisa semakin baik,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala SDN Semolowaru IV Surabaya, Novita Aprilianti mengatakan, pihak sekolah telah berupaya mengoptimalkan fasilitas yang tersedia, termasuk melalui pengaturan jadwal pembelajaran. Namun, keterbatasan sarpras membuat sekolah belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan siswa.

“Sebenarnya kami sudah semampu mungkin untuk memanfaatkan apa yang sudah ada, dengan mengatur jadwal dan lain sebagainya. Tapi kalau sudah terkendala tentang sarpras, kita sudah tidak bisa apa-apa lagi. Yang bisa kita upayakan adalah mengirim e-surat untuk kekurangan-kekurangan yang ada,” ujar Novita.

Ia menjelaskan, pihak sekolah telah mengajukan penggantian bangku dan kursi yang kondisinya sudah tidak layak sejak Maret. Namun, hingga peninjauan dilakukan, pengajuan tersebut belum terealisasi.

“Contohnya seperti yang dikeluhkan oleh Bapak (Wali Kota Eri), yaitu bangku kursi yang masih kayu dan masih ada lubang-lubang. Itu sudah kami lakukan di bulan Maret untuk pengajuan. Tapi sampai sekarang juga belum ada,” ungkapnya.

Selain keterbatasan ruang kelas dan fasilitas belajar, Novita menyebut SDN Semolowaru IV juga masih kekurangan guru. Kondisi tersebut membuat sejumlah guru harus menangani tugas mengajar tambahan.

“Kami juga kekurangan tiga guru. Jadi, masih banyak guru yang dobel untuk mengajarnya,” akunya. (fri)

Editor: Wetly