Kejati Jatim Bekali 1.000 Lebih Calon Juru Dakwah LDII dengan Penangkalan Radikalisme dan Intoleransi

NGANJUK WartaTransparansi.com – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur membekali lebih dari 1.000 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ubaidah, Kertosono, Nganjuk, dengan wawasan kebangsaan dan moderasi beragama untuk menangkal paham radikalisme dan intoleransi. Pembekalan tersebut digelar di lingkungan Ponpes Al Ubaidah, Kamis (29/1), sebagai bagian dari penguatan peran santri calon juru dakwah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Kegiatan itu diikuti sebanyak 1.066 santri yang dipersiapkan menjadi dai dan daiyah LDII. Hadir dalam acara tersebut Kasi II Bidang Intelijen Kejati Jatim Dwi Setyadi, didampingi Analis Data dan Informasi Bidang Intelijen Kejati Jatim Abdullah, beserta jajaran.

Materi pembekalan menitikberatkan pada penguatan moderasi beragama dan pemahaman kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk. Kejati Jatim menilai santri memiliki posisi strategis sebagai agen perdamaian dan perekat persatuan bangsa, terutama saat terjun langsung ke tengah masyarakat.

Dalam pemaparannya, Abdullah menegaskan santri harus mampu mengambil peran sebagai penjaga toleransi dan harmoni sosial. Ia mengingatkan pentingnya prinsip khoirun nas anfauhum linnas dalam kehidupan bermasyarakat. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Nilai inilah yang harus dipegang santri ketika terjun dan mengabdi di tengah masyarakat,” ujarnya, dalam rilis tertulisnya.

Abdullah juga berharap para santri mampu menyampaikan syiar Islam secara bijak, sejuk, dan tidak konfrontatif. Menurutnya, dakwah harus tetap menghargai kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan akidah maupun norma yang berlaku. Sikap saling menghormati, kata dia, menjadi kunci utama menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

Di hadapan ribuan santri, Abdullah kembali menekankan bahwa Indonesia dibangun oleh seluruh elemen bangsa, bukan milik satu golongan atau agama tertentu. “Indonesia ini negara beragama, bukan hanya milik umat Islam, tetapi negara bersama yang diperjuangkan oleh semua elemen sejak sebelum kemerdekaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, paham radikalisme kerap berawal dari sikap eksklusif dan klaim kebenaran sepihak. Karena itu, santri diharapkan menjadi garda terdepan dalam merawat kebhinekaan serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, Moch. Amrodji Konawi, menegaskan penguatan nilai kebangsaan merupakan prioritas utama dalam delapan bidang pengabdian LDII untuk bangsa. “Kebangsaan menjadi yang pertama dan utama. Kita hidup di negara yang sangat majemuk, sehingga nilai-nilai kebangsaan harus terus dijaga,” ujarnya.

Amrodji menyampaikan DPW LDII Jatim secara aktif mendorong pondok pesantren dan DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur untuk memberikan edukasi toleransi dan kerukunan, termasuk melalui masjid dan musala. “Pemuda adalah agent of change. Kita berharap mereka mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik,” katanya.

Pengasuh Ponpes Al Ubaidah Kertosono, Habib Ubaidillah Al Hasany, mengatakan Ponpes Al Ubaidah merupakan pusat pelatihan dai dan daiyah sebelum diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia. “Para santri yang dididik di sini nantinya akan disebar ke berbagai wilayah dan harus siap menghadapi tantangan dakwah yang semakin kompleks,” ujarnya.

Menurut Habib Ubaidillah, tantangan tersebut mencakup munculnya pandangan yang ingin mengubah dasar dan tatanan kehidupan berbangsa. Ia menegaskan nilai persatuan, kebersamaan, dan kerja sama harus terus diwariskan kepada generasi penerus sebagai fondasi utama bangsa.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan