Oleh S. Makin Rahmat, Nahdliyin, Wartawan UKW Utama
GONJANG-GANJING di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bukan sekedar keputusan Ormas Islam terbesar membersihkan diri dari oknum penjilat. Dugaan sementara, ada grand design, strategi komprehensif jangka panjang yang terstruktur dan sistematis untuk mencapai tujuan mengebiri PBNU.
Aroma munculnya Al Kadhaab (pendusta) mulai terkuak.Terlepas keluar dari pakem NU, rapat harian Syuriah PBNU, 20 November 2025, bukan semata keputusan resmi, setidaknya ada pemicu, peletup intrik menunggu momen untuk menyingkirkan, bukan forum Ahwa, adu argumentasi dan tabayyun.
Jujur, sebagai pribadi yang tumbuh dari lingkungan Nahdliyin dan ada kebanggaan menjadi santri Mbah Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) terkaget-kaget atas putusan meminta Ketua Umum PBNU KH KH Yahya Cholil Staquf mengundurkan diri per 26 November atau “dikudeta”.
Pasti muncul pertanyaan, ada apa? Gus Yaquf — sapaan Ketum PBNU masa khidmat 2021-2026 hasil mukhtamar NU ke-34 di Universitas Lampung, Lampung, Jum’at, 24 Desember 2021 dianggap sebagai pemicu kontroversi, mulai dari isu zionis hingga rebutan proyek tambang.
Saya tetap yakin, secanggih pembuat rekayasa, masih kalah dengan ketulusan para kiai yang ikhlas membesarkan NU dengan memohon Ridlo Allah dan stempel syafaat Baginda Rasulullah.
Mereka yang sekarang memainkan remot, menjadi pengendali yang alpa dengan firman Allah SWT; “Bacalah kitabmu (perbuatan/prilaku), cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas (amal) dirimu,” (QS Al isra: 14).
Bisa jadi para Al Kadhaab yang telah ‘menguasai’ panggung organisasi PBNU berpikir picik. Wallahu a’lam bish-showab.
Setidaknya, asbabun nuzul ketika media online mainstream memuat gaduh di PBNU mulai tereliminir dengan pernyataan resmi auditor dari Kantor Akuntan Publik GPAA, yang menangani audit keuangan PBNU hingga menyatakan mengundurkan diri.
Langkah itu diambil setelah draf progres audit yang dikirimkan ke internal PBNU diduga dimanipulasi, direproduksi, dan kemudian beredar ke publik sebagai seolah-olah “laporan resmi” yang memuat temuan pelanggaran keuangan.
Sumber auditor itu sendiri menegaskan bahwa audit masih berjalan, belum selesai, dan belum pada tahap yang secara profesional boleh ditarik kesimpulan apa pun. Namun dokumen yang belum matang itu justru menjadi dasar bagi sebagian pihak untuk membangun narasi pelanggaran keuangan yang kemudian digunakan dalam keputusan strategis, termasuk dalam rapat harian Syuriyah PBNU pada 20 November lalu.
Nah, kita yang masih mencintai dan merasa menjadi santri Mbah Hasyim Asy’ari, pasti tidak rela melihat PBNU diobok-obok oleh Al Kadhaab yang menyaru sebagai ulama.
Apapun alasan dan pertimbangan hukum yang digunakan, bila proses dakwaan saja belum tuntas, bagaimana bisa dilakukan sidang dan melakukan vonis. Selain prematur, sumir, tentu mencabik-cabik PBNU yang telah mendunia. Siapa pun yang telah berprilaku jahat, segera bertaubat sebelum peristiwa gawat darurat menyelimuti negeri yang gemah ripah lo jinawi. Baldathon thoyyibatun wa rabbul Ghofur.
Hemat penulis, tidak perlu melibatkan ulama khos, apalagi sampai menggelar emergency meeting. Tuduhan apapun jika tidak valid, hanya beraroma fitnah, memanipulasi data tentu tidak elok sebagai landasan.
Jika dibiarkan liar, krisis internal PBNU bukan hanya mencabik-cabik internal Nahdliyin bisa merembet pada kekuatan kekuasaan dan mengorbankan rakyat. Wallahu a’lam bish-showab. (*)