Tajuk  

Bertaubat

Bertaubat
Djoko Tetuko

Tajuk Transparansi

’’Ya Allah! Kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau berikan kepadaku, lalu aku salah gunakan, durhaka kepadaMu, sedangkan aku tidak tahu atau mengetahuinya, maka aku bertaubat dan berserah diri kepadaMu dengan mengucap: ‘La Illaha Illallah Muhammadur Rasulullah SA’’’.

’’Ya Allah! Kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau kuasakan kepadaku, lalu aku tidak bersyukur kepadaMu, sedangkan aku tidak tahu atau mengetahuinya, maka aku bertaubat dan berserah diri kepadaMu dengan mengucap: ‘La Illaha Illallah Muhammadur Rasulullah SAW’.

’’Ya Allah!… Hal-hal yang telah Engkau takdirkan kepadaku, lalu aku tidak bergembira atau tidak dapat menerimanya, sedangkan aku tidak tahu atau mengetahuinya, maka aku bertaubat dan berserah diri kepadaMu dengan mengucap: ‘La Illaha Illallah Muhammadur Rasulullah SAW’.

’’Ya Allah! Kebaikan-kebaikan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan daku tidak memujiMu, sedangkan aku tidak tahu atau mengetahuinya, maka aku bertaubat dan berserah diri kepadaMu dengan mengucap: ‘La Illaha Illallah Muhammadur Rasulullah SAW’.

’’Ya Allah! Berfikir dalam kekuasaanMu yang Engkau ciptakan terhadapku, lalu aku menutup mata, sedangkan aku tidak tahu atau mengetahuinya, maka aku bertaubat dan berserah diri kepadaMu dengan mengucap: ‘La Illaha Illallah Muhammadur Rasulullah SAW’.

’’Ya Allah! Jika perbuatan-perbuatan yang daku lakukan sepanjang umurku, tidak Dikau redhai sedangkan daku tidak tahu atau mengetahuinya, maka daku bertaubat dan berserah diri kepadaMu dengan mengucap: ‘La Illaha Illallah Muhammadur Rasulullah SAW’.

Penggalan do’a Akasyah di atas sebagai pengingat kepada semua pembaca bahwa sesungguhnya terlalu banyak nikmat dari Allah SWT, diberikan kepada bangsa dan negara Indonesia dengan berbagai keunikan dan keajaiban, bahkan tidak berlebihan menyebutkan sebagai miniatur surga atau surga dunia, karena hampir sebagian kisah atau cerita tentang surga seperti ada di Indonesia. Juga menjadi miniatur dunia karena hampir seluruh bangsa dengan warna kulit, bahasa, dan adar istiadat, kebudayaan, juga agama di dunia ada di Indonesia.

Tetapi panggilan Allah SWT untuk senantiasa menerima dengan mudah mensyukuri nikmat Allah SWT, menjalan ibadah sholat dan sujud, juga senantiasa menebar sabar bahkan dengan penuh kesabaran menerima berbagai peristiwa, memang tidak mudah.

Pertikaian, sengketa, konflik selalu diciptakan. Bahkan para pemegang amanat setelah mengucapkan janji dan sumpah seperti tanpa berdosa juga menciptakan polemik baru, dengan memamerkan berbagai atraksi kekuasaan dan kewenangan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan cita-cita dunia semata yang hanya sebentar saja.

Pesta Pemilu (Pemilihan Umum) dengan jargon bebas dan rahasia, jujur dan adil, seperti sebuah ’’budaya baru’’, diciptakan berbagai model dan modus, seakan-akan Pemilu sudah sesuai peraturan serta aturan main, namun pemegang kekuasaan, kewenangan, dan amanat untuk melaksanakan seperti itu, justru memainkan irama kepalsuan dengan menghalalkan cara untuk memanfaatkan jabatan mengeruk sebanyak-banyaknya keuntungan baik, pribadi, golongan/kelompok, maupun kepentingan lebih besar.

Memang mencari keadilan berjalan sebagaimana ketentuan, ibarat kentut baunya menyegat, tetapi sulit membuktikan siapa sumber bau kentut itu?

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tiba-tiba saja menggemparkan menjadi permasalahan baru, ketika anak didik harus menjadi korban kebijakan Permendikbud karena terlalu kaku dalam pelaksanaan di lapangan.

Juga belum diuji coba sudah diterapkan secara total, sehingga kelemahan dan kekurangan terhadap PPDB semakin mencolok. Belum ada arah ke mana dunia pendidikan dikembalikan dengan baik dan benar.

Sebab menghalalkan cara untuk menerobos kelemahan peraturan juga dilakukan. Sekolah juga tanpa mau berusaha memeta zona secara tradisional untuk menyelamatkan kepentingan dunia pendidikan, juga diam saja. Jadilah musibah dunia pendidikan.

Belum lagi carut marut dugaan makar tanpa ujung pangkal yang jelas, siapa mau berbuat makar, dan makar seperti apa? Dengan kekuatan persenjataan atau persekongkolan seperti apa? Tidak jelas.

 Tetapi isu tentang makar terus digelindingkan seakan-akan Indonesia tidak aman, seakan-akan pasca Pemilu masih ada serentetan kerusuhan bahkan kemungkinan makar dari pihak-pihak tertentu. Semua isu-isu gelap ini, seharusnya sudah dikubur menjadi bagian dari riak-riak kecil.

Yang pasti ikhtiyar secara maksimal yang sudah dilakukan, bahwa takdir menentukan lain, menentukan Indonesia tetap aman dan nyaman, maka harus disyukuri dengan meningkatkan berbagai pembangunan untuk kemaslahatan umat atau rakyat kecil.

Mengakhiri teka-teki kurang sedap dan justru merugikan tentang keamanan dan kenyamanan Indonesia, proses pembangunan di segala bidang (walaupun dengan susah payah) masih terus menerus berlangsung dengan berbagai terobosan, yang tentu saja pasti masih ada kekurangan, maka setelah semua permasalahan bangsa ini selesai atau masih proses menyelesaikan, semua wajib bertaubat.

Taubat nasional untuk mengembalikan marwah bangsa dan negara menuju cita-cita negara yang adil, damai, tenteram, sentosa, makmur dan sejahtera lahir batin, serta dengan keajaiban dari Allah SWT, bangsa Indonesia mendapat derajat yang mulia, menikmati kemerdekaan di bumu pertiwi dengan dimudahkan beribadah, bersujud, bersabar, dan bersodaqoh sebagai gerakan taubat sekaligus mensyukuri nikmat Allah SWT. (*)