“GOL BUNUH DIRI’’, kadang mengejutkan, kadang menggembirakan, kadang membinggungkan. Bukan suatu kejutan, jika tiba-tiba pergulatan olahraga paling merakyat di Indonesia dan merakyat hampir di seluruh dunia, sepak bola, memanas bahkan saling sikut, saling tendang, saling heading, saling adu skill individu, baik di lapangan maupun di luar lapangan.
Berawal dari suara nyaring Yanuar, Manajer Madura FC, bahwa dalam pertandingan kandang menghadapi PSS Sleman, mendapat telepon dari Hidayat, (salah satu exco PSSI ketika itu), untuk mengatur hasil pertandingan dengan iming-iming dari seratus juta sampai lebih. Informasi setengah liar itu, tiba-tiba menjadi sebuah tendangan pinalti bagi PSSI, ketika Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) menyatakan terpanggil menyelesaikan off side dan pelanggaran di dalam maupun di luar lapangan hijau.
Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian dengan cepat dan tanggap membentuk Satgas Anti Mafia Bola, sebuah satugas tugas khusus diberi kewenangan menyamai kewenangan Densus 88, bahkan sama dengan tugas memantau, mendeteksi, menyelidiki, melakukan aksi, sampai menumpas akar paling berani pelaku teroris, juga berlaku di dunia sepakbola.
Dan Satgas Anti Mafia Bola, sudah melakukan proses hukum dengan melakukan menyelidikan dan menyidikan, bahkan proses hukuman sama seperti melakukan para teroris. Bahkan kabar terbaru, Plt Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, ditetapkan menjadi tersangka karena berusaha melalui 3 orang terdekat, melakukan pengrusakan police line, dan berusaha menghilang barang bukti. Selain itu, menurut Ketua Tim Media Satgas Anti Mafia Bola Kombes Argo Yuwono, Jumat (15/2/2019), pihak kepolisian telah menemukan dan mendaftar 77 barang hasil penggeledahan sebagai barang bukti.
Situasi dan kondisi PSSI terkini, boleh dibilang seperti ’’perang dingin berkecamuk’’ dengan tekanan sangat luar biasa, sehingga tidak berlebihan jika memberi lebel atau stempel bahwa saat ini ’’PSSI Terbakar, PSSI Terkapar’’.
Mengapa demikian? Kongres PSSI 2019 seperti sudah dipersiapkan dengan lobi dan pola-pola serangan balik, juga ’’Gol Bunuh Diri’’, dengan berbagai manuver umpan-umpan pendek dan panjang, juga umpan tarik, sehingga sempat terjadi tarik menarik hampir semua penggede PSSI, hampir semua pemilik suara, sekitar 88 suara, sudah membulatkan tekad mengamankan PSSI dari tekanan kehadiran pemerintah melalui lembaga kepolisian dengan Satgas Anti Mafia Bola, dengan setengah ’’memaksa’’ Ketua Umum terpilih Edy Rahmayadi mundur saat pidato pembukaan, dan dengan legowo di luar kebiasaan dan tabiat jenderal AD bintang tiga, langsung menyerahkan bendera pataka PSSI kepada Wakil Ketua Umum tertua sesuai dengan statuta PSSI, Joko Driyono, menjadi Plt Ketua Umum.
Lepas dari tekanan murni sepak bola, tekanan karena di luar lapangan sepak bola tanpa embel-embel politik, tekanan akibat persaingan bandar judi bola, tekanan karena (secara kebetulan) ada unsur politik masuk mempengaruhi wasit dan vooter, dan tekanan karena persaingan tidak sehat toloh-tokoh nasional, tekanan tokoh sepak bola, dalam menyelesaikan urusan sepak bola.
Tetapi PSSI saya ibaratkan ’’membakar kantor sendiri’’, memporak-porandakan suasana kantor yang sudah tercabik-cabik, karena executife committe (exco/eksekutif komite) bernama Hidayat mundur teratur, akibat kasus telepon dengan manajer Madura FC, disiarkan berulang-ulang dalam acara televisi dan hampir semua media memberitakan dengan lantang.
Belum selesai soal itu, exco Johar Ling Eng, yang juga Ketua Asosiasi PSSI Jawa Tengah, setelah diperiksa Satgas Anti Mafia Bola, ditetapkan sebagai tersangka. Dan inilah awal ’’PSSI Terbakar’’.
Belum selesai kasus Hidayat dan Johar, menyusual secara srimultan Mbah Putih atau Mbah Pri alias Priyanto, yang juga Komisi Disiplin dan tokoh sepak bola Jawa Tengah, juga ditetapkan sebagai tersangka, berkaitan dengan laporan dan pengakuan Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani, soal pengaturan skor.