Mereka, kata dia, nongkrong sampai pagi dan tidak baca buku, apalagi belajar. Pemandangan ini menggejala di mana-mana dan sudah menjadi bagian dari tantangan yang dihadai para siswa era sekarang. Dia berharap semua guru punya jiwa kepemimpinan dan punya tanggung jawab untuk mencetak anak didik unggul. “Jadi guru jangan hanya sekadar mengajar tetapi punya semangat membawa anak didik menjadi unggul. Itulah guru sesungguhnya,” pesan dia pada guru.
Selain punya jiwa kepemimpinan, dirinya berharap para guru respek pada lingkungan madrasah yang beradab. Diingatkan bahwa pelajar sekarang ini memiliki pola pikir dan karakter berbeda-beda. “Jangan dianggap semua pintar atau sama.
Didiklah mereka sesuai dengan kondisinya dan bapak-ibu lebih tahu perbedaan itu pada siswa masing-masing,” tutur dia.
Selain itu, lanjut dia, guru seharusnya menguasai materi pembelajaran, apalagi sekarang eranya sudah sangat berbeda dengan dulu. Sehingga, kata dia, guru sudah seharusnya melakukan update biar tidak ketinggalan zaman. Semangat untuk terus mengupgrade diri itu penting dimiliki semua guru. “Dan tidak kalah pentingnya adalah sikap dan jiwa guru untuk menfasilitasi siswa untuk belajar,” kata dia.
Juga, lanjut dia, guru seharusnya senantiasa melakukan refleksi. Mengevaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan secara terus menerus sebagaimana pesan dari sahabat Nabi, Umar bin Khatab: Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu (koreksilah dirimu sekalian sebelum dikoreks orang lain). “Mari kita semua menghitung, mengevaluasi diri. Mungkin metodenya kurang pas, atau terlalu cepat, apa apa,” ucap dia.
Menurut dia, mengajar dengan baik tidak ada ruginya bagi guru. Justru pendidikan bisa dijadikan sebagai ladang mencari amal. Dikatakan, anak didik merupakan lahan luar biasa untuk mencari surga karena guru ikut kontribusi pada kepintaran dan kesuksesan mereka. “Kalau mengajar hanya karena ingin gaji dan tunjangan, ya nanti yang didapat hanya itu. Tapi kalau niatnya karena Allah, maka dua-duanya, dunia akhirat akan didapat,” kata dia.
Jadi, lanjut dia, niatkan untuk memberikan kontribusi pada prestasi akademik siswa. Kualitas guru itu, kata dia, bisa dilihat kesuksesan siswa. “Kalau siswa berhasil, mudah nerima pelajaran, itulah kontribusi guru. Kalau ada 150 siswa MAN 1 Lamongan masuk PTN seperti ITS, Unair, dan lain-lain. Itu adalah kontribusi guru.
Sementara itu, Kepala MAN 1 Lamongan Akhmad Najikh mengajak semua dewan guru untuk berdoa supaya diberi petunjuk dan kekuatan Allah Swt mewujudkan cita-cita itu. “Mudah-mudahan kita diberi petunjuk,” kata Najikh. (min)