Menurut Pakde Karwo, seorang dai dan santri merupakan agen perubahan terhadap perubahan yang lebih baik. Karenanya, diklat dan pelatihan-pelatihan harus sering dilakukan, agar contoh yang diberikan kepada masyarakat baik dan tepat. Selain itu, cara penyampaian dakwah sesuai budayanya menjadi penting agar ajaran Qur’an dan sunah bisa diterima dengan baik.
Dicontohkan, di daerah Kudus sampai sekarang tidak pernah dilakukan penyembelihan kerbau untuk menghormati budaya dan terbukti Islam bisa berkembang dan diterima oleh masyarakatnya. Apalagi, budaya di Jatim sangat beragam mulai budaya mataraman, Maduran, Pandalungan, dan Arek. Oleh sebab itu, setiap santri atau dai dalam berdakwah harus mengetahui budayanya terlebih dahulu. “Indonesia saat ini masih butuh contoh untuk melakukan hal baik. Dengan pendekatan budaya inilah maka ajaran baik akan cepat diterima masyarakat,”
Pakde Karwo menyampaikan, bahwa ada sosok pembela Islam bernama Karen armstrong yang menceritakan tentang kehidupan Islam di Timur dan Indonesia. Menurutnya, masuknya ajaran Islam di Timur Tengah tidak melalui budaya, sedangkan di Indonesia lewat pendekatan budaya dan perdagangan. “Lewat pendekatan budaya inilah maka masuknya Islam di Indonesia nyaris tanpa konflik, dan ini membuktikan bahwa ajaran Islam merupakan rahmatan lil alamin,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua PW Persaudaraan Muslimin Indonesia/Parmusi Muhammad Mirdasy mengatakan, kegiatan diklat yang diselenggarakan Parmusi ini difokuskan pada kegiatan dakwah yang bisa selalu menyapa, menata, dan membela umat. Parmusi sendiri, saat ini sudah tersebar di 16 kab/kota di Jatim. “Terimakasih atas dukungan Bapak Gubernur untuk menyemangati agar mengaji dan dakwah yang kami lakukan bisa terus berjalan,” tukasnya. (eka/med)