BANYUWANGI – Ada saran cukup menarik dari kalangan pelaku wisata terkait kawasan Kawah Ijen. Karena, Ijen merupakan areal konservasi, sehingga harus ada proteksi. Harusnya, setiap orang ada pembatasan naik ke kawasan Ijen dan dibawahnya harus buffer, sehingga betul-betul terkonsep dan terkontrol. Tujuanya agar alam kita tidak rusak.
Hal itu ditegasakan Direktur PT Pesona Ijen Banyuwangi, Supriyadi di Restro Jarang Goyang Banyuwangi, Kamis (25/1) pagi tadi. “Pariwisata di Banyuwangi sudah luar biasa. Hal itu tidak lepas dari agenda pemerntah menjadikan Banyuwangi sebagai 10 priority. Ada destinasi wisata unggulan Indonesia, meskipun tidak termasuk 3 ya, Labuhan Bajo, New Bali dan Danau Toba,” ujarnya.
Tapi, kata Supri, dengan 10 besar priority ini imbasnya support dari pemerintah pusat ini luar biasa. Cuma percepatan pariwisata Banyuwangi yang kita nikmati ini harus betul-betul terkonsep dan terkontrol. Bupati Banyuwangi ini luar biasa memberikan rambu-rambu, temasuk konsep pariwisata dengan eko tourism. “Maka dar itu, kita harus konsisten betul. Kalau eko tourism harus terkonsep betul jangan sampai keluar dari rel. Ini kalau nanti sudah dicanangkan, lalu ini tidak konsisten, maka muncul kebiasanya ambivalen,” papar bos UD Sumber Niaga itu.
Supri mencontohkan, ketika karaoke tidak diperbolehkan, minuman keras tidak diperbolehkan, itu harus konsisten disitu harus komitmen. Kenyataanya dibeberapa tempat karapoke yang menjual miras masih banyak. Ini harus ada kebijaksanaan yang detail dan jelas. Dan harus ini ada perda yang mengatur soal itu, bukan aturan ini untuk sekarang, tapi harus ada plaining 25-50 tahun kedepan.