“Korupsi banyak aspek di sekitar kita yang perlu diperhatikan. Pemerintah Sidoarjo sudah memulai mengenalkan budaya antikorupsi,” katanya.
Sebab, lanjut Adies, masalah korupsi sudah sampai menghalang-halangi seperti advokat dan dokter yang sudah menjadi bagian profesi untuk memperkuat korupsi.
Adies menjelaskan, bahwa sebagai mitra KPK
Sekarang KPK sudah memiliki alat yang tembus kaca dan mampu menjangkau pemantauan sekitar 10 km. “Titik rawan korupsi dana APBD, dan dana aspirasi ke masyarakat banyak ke tangkap masalah ini. Investor dan pengerjaan proyek-proyek rawan korupsi serta hibah bansos,” ujarnya.
Menurut dia, Perjalanan dinas juga yang mudah dideteksi, “Saya yakin di Sidoarjo gak ada, tetapi alokasi dana desa, juga harus menjadi perhatian,” katanya.
Adies juga sempat melemparkan anekdot, tentang proyek Rumah Sakit. “Kontraktor Prancis mengatakan mendapat proyek 8 lantai tetapi hanya mampu diselesaikan 4 lantai, sehingga korupsi 4 lantai, kontraktor Amerika dengan proyek juga 8 lantai hanya dapat dibangun 3 lantai atau korupsi 5 lantai, kontraktor Indonesia dapat proyek 21 lantai tetapi tidak ada bangunannya sama sekali. Itulah hebat korupsi di Indonesia,” tandasnya disambut tawa hadirin. (JT)